Agar Anak Tidak Jadi Teroris - Al Ustadz Luqman Ba'abduh
Download File : Silahkan Klik Di Sini (Sesion 1), (Sesion 2)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
« من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر »
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam pada bulan Syawwal, maka jadilah seperti puasa setahun.”
(HR. Muslim 782, dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)
Dengan berlalunya Ramadhan, tidak berarti berlalu pula amal ibadah. Justru, di antara tanda seorang berhasil meraih kesuksesan selama bulan Ramadhan adalah tampaknya pengaruh yang terus ia bawa pasca Ramadhan.
Di antara syari’at yang Allah tuntunkan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam pasca bulan Ramadhan adalah puasa selama 6 hari pada bulan Syawwal. Puasa ini sebagai kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan. Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan sebulan penuh, kemudian dilanjutkan berpuasa 6 hari dalam bulan Syawwal, maka dia mendapat pahala puasa selama setahun.
Mari kita ikuti berbagai rincian dan pernik hukum terkait puasa 6 hari bulan Syawwal ini bersama dua ‘ulama international terkemuka abad ini, Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dan Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam jawaban dan fatwa yang beliau berdua sampaikan menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau berdua :
Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah :
Bulan Syawwal semuanya merupakan waktu yang diizinkan untuk berpuasa 6 hari padanya :
Pertanyaan : Bolehkah bagi seseorang memilih hari-hari tertentu pada bulan Syawwal untuk ia melaksanakan puasa 6 hari. Ataukah puasa tersebut memiliki watu-waktu khusus?dan apakah jika menjalankan puasa tersebut menjadi wajib atasnya?
Jawab : Telah pasti riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka menjadi seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari kitab Ash-Shahih.
6 hari tersebut ditentukan selama satu bulan (Syawwal). Boleh bagi seorang mukmin untuk memilih dari bagian bulan Syawwal tersebut. Jika mau ia boleh berpuasa pada awal bulan, atau pertengahan bulan, atau pada akhirnya. Kalau mau ia boleh berpuasa secara terpisah-pisah, kalau mau boleh ia berpuasa berturut-turut. Jadi sifatnya longgar/bebas, bihamdillah. Kalau ia bersegera melaksanakannya secara berturut-turut pada awal bulan (Syawwal), maka yang demikian afdhal (lebih utama). Sebab yang demikian termasuk bersegera kepada kebaikan. Dan dengan itu bukan menjadi kewajiban atasnya. Boleh baginya tidak mengerjakannya pada tahun kapanpun. Namun senantiasa melaksanakan puasa Syawwal (setiap tahunnya) adalah afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang pelakunya kontinyu/terus-menerus dalam melaksanakannya meskipun sedikit.” Wallahul Muwaffiq
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/390-391)
Tidak Dipersyaratkan Berturut-turut dalam Melaksakan Puasa 6 Hari Syawwal
Pertanyaan : Apakah dalam melaksanakan puasa 6 hari pada bulan Syawwal harus dikerjakan secara berturut-turut? Ataukah boleh berpuasa secara terpisah-pisah selama bulan Syawwal?
Jawab : Puasa 6 hari Syawwal merupakan sunnah yang pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh mengerjakannya secara berturut-turut, dan boleh juga terpisah-pisah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebutkan puasa 6 hari secara mutlak, tidak menentukan secara beturut-turut ataupun secara terpisah, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Wallahul Muwaffiq (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/391)
Yang Disyari’atkan adalah Mendahulukan Qadha’ (hutang Puasa Ramadhan) sebelum puasa 6 hari Syawwal
Pertanyaan : Apakah boleh berpuasa 6 hari Syawwal sebelum melaksanakan kewajiban mengqadha’ (membayar hutang) puasa Ramadhan?
Jawab : Para ‘ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Pendapat yang benar adalah bahwa yang disyari’at mendahulukan qadha’ sebelum puasa 6 hari Syawwal dan puasa-puasa sunnah lainnya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.”Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Barangsiapa yang mendahulukan puasa 6 hari Syawwal sebelum mengqadha` maka dia belum memenuhi syarat mengikutkan puasa 6 hari Syawwal dengan puasa Ramadhan, tapi baru mengikutkannya dengan sebagian puasa Ramadhan.
Dan juga karena puasa qadha` adalah fardhu, sedangkan puasa 6 hari Syawwal adalah tathawwu’ (sunnah/tidak wajib). Yang fardhu lebih berhak untuk dipentingkan dan diperhatikan. Wabillahit Taufiq.
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/392)
Hukum Mengqadha` Puasa 6 hari Syawwal setelah bulan Syawwal berlalu
Pertanyaan : Seorang wanita biasa berpuasa 6 hari Syawwal setiap tahun. Pada suatu tahun dia mengalami nifas karena melahirkan pada awal bulan Ramadhan, dan tidaklah ia suci/selesai dari nifasnya kecuali setelah keluar dari bulan Ramadhan. Kemudian setelah ia suci tersebut, ia melaksanakan Qadha’ puasa Ramadhan. Apakah harus baginya untuk mengqadha’ puasa 6 hari syawwal sebagaimana ia mengqadha’ Ramadhan, meskipun itu sudah di luar bulan Syawwal? Ataukah tidak ada wajib atasnya kecuali qadha` Ramadhan? Dan apakah puasa 6 hari Syawwal tersebut harus dilakukan terus menerus (setiap tahun) ataukah tidak?
Jawab : Puasa 6 hari Syawwal adalah sunnah, bukan fardhu. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak mengapa melakukan puasa 6 hari tersebut secara berturut-turut atau boleh juga secara terpisah-pisah, karena kemutlakan redaksinya.
Dan menyegerakan pelaksanaannya afdhal (lebih utama), berdasarkan firman Allah :
dan aku bersegera kepada-Mu. Wahai Rabb-ku, agar Engkau ridha (kepadaku)”.(Tha-ha : 84)
juga berdasarkan ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits nabawiyyah yang menunjukkan keutamaan berlomba dan bersegera kepada kebaikan.
Dan tidak wajib terus-menerus dalam melaksanakan puasa 6 hari tersebut, namun jika dilaksanakan terus menerus itu lebih utama. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya meskipun sedikit.”Muttafaqun ‘alaihi.
Tidak disyari’atkan mengqadha` puasa 6 hari tersebut jika telah berlalu/lewat bulan Syawwal, karena itu adalah ibadah sunnah yang telah berlalu waktunya. Baik ia meninggalkannya karena udzur atau pun tidak karena udzur (sama-sama tidak ada qadha`).
Wallahu waliyyut Taufiq
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi`ah XV/388-389
* * *
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan : Apakah ada keutamaan shaum 6 hari Syawwal? Apakah melaksanakannya secara terpisah atau harus berturut-turut?
Jawab : Ya, ada keutamaan puasa 6 hari Syawwal. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Yakni seperti puasa setahun penuh.
Namun yang perlu diperhatikan bahwa keutamaan tersebut tidak akan terwujud kecuali apabila seseorang telah selesai dari melaksanakan puasa Ramadhan seluruhnya. Oleh karena itu, apabila seseorang berkewajiban mengqadha` Ramadhan, maka dia harus melaksanakan puasaqadha’ tersebut lebih dahulu, baru kemudian dia berpuasa 6 hari Syawwal. Kalau dia berpuasa 6 hari Syawwal namun belum mengqadha’ hutang Ramadhan, maka dia tidak memperoleh keutamaan tersebut, baik kita berpendapat dengan pendapat yang menyatakan sahnya puasa sunnah sebelum melakukan qadha` atau kita tidak perpendapat demikian. Yang demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan … “
Adapun orang yang masih punya kewajiban mengqadha’ (membayar hutang puasa) Ramadhan, maka dia dikatakan ‘berpuasa sebagian Ramadhan‘, tidak dikatakan “berpuasa Ramadhan“
Dan boleh melaksanakannya secara terpisah-pisah atau pun secara berturut. Namun berturut-turut lebih utama, karena padanya terdapat sikap bersegera menuju kepada kebaikan, dan tidak terjatuh pada sikap menunda-nunda, yang terkadang menyebabkan tidak melakukan puasa sama sekali.
Pertanyaan : Apakah bisa diperoleh pahala puasa 6 hari Syawwal bagi barangsiapa yang masih memiliki tanggungan qadha’ Ramadhan, namun ia mengerjakan puasa tersebut sebelum melakukan puasa qadha`?
Jawab : Puasa 6 hari Syawwal tidak akan diperoleh pahala/keutamaanya kecuali jika seseorang telah menyempurnakan puasa bulan Ramadhan. Barangsiapa yang masih memiliki kewajiban mengqadha’ Ramadhan, maka dia jangan berpuasa 6 hari Syawwal kecuali melaksakan puasa qadha’ Ramadhan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan … “
Atas dasar itu, kita katakan kepada orang yang masih punya kewajiban qadha’, “Laksanakan puasa qadha’ terlebih dahullu, kemudian baru lakukan puasa 6 hari Syawwal.”
Bila telah selesai bulan Syawwal sebelum ia sempat berpuasa 6 hari, maka ia tidak bisa memperoleh keutamaan tersebut, kecuali apabila karena udzur.
Bila pelaksanaan puasa 6 hari Syawwal ini bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka dia dia bisa memperoleh dua pahala sekaligus dengan niat mendapatkan pahala puasa 6 hari Syawwal dan pahala puasa Senin – Kamis. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amal-amal itu harus dengan niat. Dan bagi masing-masing orang akan mendapat apa yang ia niatkan.”.
Pertanyaan : Apakah boleh seseorang memilih melakukan puasa 6 hari Syawwal, ataukah 6 hari tersebut ada waktu tertentu? Dan apakah jika seorang muslim melaksakana puasa 6 hari tersebut kemudian menjadi kewajiban atasnya dan wajib melaksanakannya setiap tahun?
Jawab : telah sah riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawwal maka seperti puasa setahun.”Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.
6 hari tersebut bukanlah hari-hari tertentu/terbatas dari bulan Syawwal. Namun boleh bagi seorang mukmin untuk memilihnya. Jika mau dia boleh berpuasa pada awal bulan, jika mau boleh berpuasa pada pertengahan bulan, dan jika mau boleh berpuasa pada akhir bulan, jika mau boleh mengerjakannhya secara terpisah-pisah. Sifatnya longgar, bihamdillah.
Jika dia bersegera mengerjakannya secara berturut-turut pada awal bulan, maka yang dimikian afdhal (lebih utama) karena termasuk bersegera pada kebaikan. Namun tidak ada kesempitan dalam hal ini, bihamdillah, bahkan sifatnya longgar. Jika mau berturut-turut, jika mau maka boleh terpisah-pisah. Kemudian jika dia mengerjakannya pada sebagian tahun, dan tidak mengerjakannya pada sebagian tahun lainnya, maka tidak mengapa. Karena itu ibadah tathawwu’ (sunnah), bukan ibadah fadhu.
(Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin XX/5-8)
Yakni selain tanggal 1 Syawwal (pentj)
Yakni ada satu permasalahan yang diperselisihkan di kalangan ‘ulama, apakah boleh/sah berpuasa sunnah sebelum mengqadha’Ramadhan. Namun permasalahan puasa 6 hari Syawwal sebelum mengqadha’ Ramadhan ini adalah permasalahan lain di luar permasalahan pertama. Karena masalah puasa 6 hari Syawwal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersyarakat harus berpuasa Ramadhan secara penuh terlebih dahulu. (pentj)
Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=366
Oleh : Al Ustadz Ali Basuki, Lc (KHUTBAH IEDUL FITRI di Masjid Fatahillah Depok)
إن الحمد لله نحمده ونستعين به ونستغفره ؛ ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له . وأشهد ان محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم .
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَيقِباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
فإن أصدق الحديث كلام الله تعالى ، وخير الهدي هدي محمد صلي الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار
Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tunduk kepada-Nya seluruh alam semesta, Shalawat dan Salam semoga selalu tecurahkan kepada Penutup para Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Asmaullah menggema dengan penuh keagungan di seluruh permukaan bumi, Allahu Akbar Allahu Akbar laa ilaahaillahu wallahu akbar wa lillahi alhamd. Untaian kalimat-kalimat yang agung nan suci, yang seharusnya menggetarkan jiwa-sanubari seorang muslim sehingga terus tehunjam dan kokoh Ke-Esaan dan kebesaran Allah dalam sepanjang kehidupannya tanpa adanya keraguan, Allah befirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)
Tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma wa sifat, merupakan keutuhan dari kesempurnaan makna tauhid yang suci, yang akan menghantarkan seorang hamba untuk tunduk, pasrah, mengharap, takut, berdoa, dan bertawakal hanya kepada-Nya, Allah befirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kapada Rabb-nyalah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)
Jiwa yang tunduk kepada Allah akan berupaya untuk lari, menjauh, membenci,dan memusuhi segala bentuk kesyirikan, Allah berfirman:
حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ
“Dengan ikhlas kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah. Dan barangsiapa menyekutukan Allah maka dia seakan-akan jatuh dari langit kemudian disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang sangat jauh.” (Al-Hajj: 31)
Seorang Muslim yang mukhlis harus lari dari segala bentuk kesyirikan dan kekufuran; peribadatan kepada selain Allah, pengingkaran sifat- sifat Allah, perdukunan, pengkultusan selain Allah, dan berbagai bentuk kesyrikan dan kekufuran yang lainnya, karena Allah mengancam:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempat kembalinya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Ma`idah: 72)
Seorang Muwahid akan senatiasa tunduk dan cinta kepada seluruh perintah Allah dan Rasulnya. Hatinya lapang dan damai dengan Islam, Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka senatiasa takut menyelisihi perintah-Nya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Mereka sadar dan yakin bahwa menyelisihi agama berarti enggan masuk surga, Rasulullah bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (HR. Al-Bukhari, Kitabul I’tisham bil Kitabi was Sunnah, Bab Al-Iqtida` bi Sunani Rasulillah, no. 6737)
Hadirin Rahimani wa rahimakumullah!
Bagi seorang Muwahid, Bid’ah merupakan ancaman yang mengerikan, karena Rasulullah bersabda:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)
لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثاً
“Allah melaknati orang yang melindungi bid’ah.” (HR. Muslim, Kitabul Adhahi, Bab Tahrim Adz-Dzabh Lighairillah, no. 5096)
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ …
“Dan jauhi oleh kalian perkara-perkara baru (yakni dalam agama) karena semua bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan di neraka.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
:Abdullah bin Mas’ud Rhadiyallahu ‘Anhu berkata,
اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
“Ikutilah dan jangan mengada-ngada, syariat ini sudah cukup”
Berkata Mu’adz bin Jabal Rhadiyallahu ‘Anhu,
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يرفع ، وَرفعهُ أَنْ يَذْهَبَ أَهْلُهُ ، أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَالتَّعَمُّقَ وَالتَّبَدُّعَ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ
“
Pelajarilah ilmu sebelum diangkat, dan diangkatnya ilmu adalah dengan perginya para ulama, dan jauhilah oleh kalian memaksakan diri dalam beragama, dan ikutilah ajaran Islam yang pertama”.
Dan Al Imam Al ‘Auza’i juga mewasiatkan,
اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم وقل بما قالوا وكف عما كفوا عنه واسلك سبيل سلفك الصالح فإنه يسعك ما يسعهم
“Sabarkan dirimu di atas sunnah, bersikaplah seperti halnya para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berpendapatlah dengan pendapat mereka dan tahanlah dirimu dari hal-hal yang mereka jauhi, tempuhlah jalan pendahulumu yang shalih, karena sesungguhnya agama ini cukup bagimu
sebagaimana cukup bagi mereka”
Meniti jalan salafussholih, merupakan langkah kehidupan yang tidak boleh terpisahkan bagi seorang Muwahid, karena jalan mereka adalah jalan yang di ridhoi Allah, Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)
Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya:
خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)
Penjagaan dan pertolongan Allah akan senatiasa diberikan kepada mereka yang yakin serta istiqomah dalam meniti jalan:
لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِـي ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ
“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, dan mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7311)
Kaum Muslimin Rahimani wa rahimakumullah!
Seorang muwahid akan senantiasa menjauh dari segala yang diharamkan Allah. Mereka yakin dosa besar ataupun dosa kecil pasti akan menyesakkan dada dan mendekatkan kepada adzab-Nya, Allah berfirman:
وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)
Menjauh dan lari dari dosa besar merupakan upaya yang tidak boleh kendor bagi seorang Muslim, karena menjauh dari dosa-dosa besar mendatangkan ampunan, Allah berfirman:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيْمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (An-Nisa`: 31)
Tetapi ingat! janganlah kita meremehkan dosa-dosa kecil, Rasulullah bersabda:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani, dan lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 2686)
Kaum Muslimin Rahimani wa rahimakumullah!
Kita harus sadar bahwa gelombang syahwat dan syubhat sangatlah kuat, Rasulullah bersabda
“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)
Orang-orang kafir dan kaum munafiqin terus akan berupaya untuk memperdaya kaum Muslimin dengan beragam kekufuran dan kemaksiatan yang akan mereka serukan dan tawarkan kepada Umat Rasulullah ini, dan ingatlah bahwa mereka tidak akan menginginkan kebaikan kepada kita sedikitpun. Allah berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)
Saat ini! diantara makar busuk mereka untuk merusak agama, ditawarkan kepada kaum Muslimin; pluralisme dan inklusivisme, dalam keadaan Allah telah mengingatkan:
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللَّهِ اْلإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah agama Islam.” (Ali Imran: 19)
Kaum Muslimin Rahimani wa rahimakumullah!
Ingatlah bahwa istri-istri dan anak-anak kita merupakan sasaran penghancuran kaum pengekor hawa nafsu. Emansipasi atau deislamisasi adalah sebagian gerakan peruntuh kehormatan wanita Muslimah. Maka jagalah mereka! Amanah Allah yang besar, Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adhaah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba -yang diberi wewenang oleh Allah dalam mengatur bawahannya- kemudian dia meninggal, di hari ia meninggal dalam keadaan menipu bawahannya kecuali Allah haramkan atasnya sorga”. HR Al Bukhai dan Muslim
Bagi wanita yang takut Allah, memakai jilbab, menjaga tingkah laku, dan menjaga ketaatan kepada Allah adalah kebahagiaan,
“Katakanlah (ya Muhammad) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)… (An-Nuur: 31)
وَقَرْنَ فِي بُيُوْتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ
“Dan tetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyyah yang terdahulu, tegaklah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzab: 33)
Ingatlah wahai saudariku:
إِنَّهُ مَن يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيى وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى
“Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabb-nya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang mulia”. (QS. Thohä : 74-75)
Rasulullah bersabda:
ارِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ
“Diperlhatkan kepadaku neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah perempuan”. (H.R. Bukhary dan Muslim)
Sungguh Islam mengajarkan keadilan bukan persamaan dalam segala hal.
Hadirin Rahimakumullah!
Pemuda dan masa remaja, merupakan puncak kekuatan fisik yang sangat optimal, sehingga syetan tidak akan melepaskan masa yang indah ini.sadarlah di pundak kalian ada tanggung jawab yang besar dalam agama, maka waspadalah dari segala tipudaya syetan yang akan menggiring kita untuk tunduk kepada hawa nafsu. Ingatlah firman Allah:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada yang jelek.” (Yusuf: 53)
Dan ingatlah sabda Rasulullah:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالْمَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ, وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ, وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ, وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Mereka adalah imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya selalu terikat/terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, (kemudian) seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan namun ia berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.” (Yang berikutnya) seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendirian lalu mengalir air matanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tasyabuh atau meniru-niru budaya dan kebiasaan orang-orang kafir merupakan bahaya laten yang sangat berbahaya, khususnya para remaja, Rasulullah bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6025)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata: “Tasyabbuh dengan orang-orang kafir terjadi dalam hal penampilan, pakaian, tempat makan, dan sebagainya karena ia adalah kalimat yang bersifat umum. Dalam artian, bila ada seseorang yang melakukan ciri khas orang-orang kafir, di mana orang yang melihatnya mengira bahwa ia termasuk golongan mereka (maka saat itulah disebut dengan tasyabbuh).” (Majmu’ Durus Wa Fatawa Al-Haramil Makki, 3/367)
Menyelisihi orang-orang kafir mempunyai hikmah yang sangat besar bagi umat Islam. Di antara hikmahnya adalah:
1. Menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang dzahir (penampilan dan akhlak) merupakan suatu maslahat bagi orang-orang yang beriman. Dengan itu, akan tampak perbedaan penampilan yang dapat menjauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan para penghuni An-Naar tersebut.
2. Bahwasanya cara/ jalan yang mereka miliki tidak keluar dari dua keadaan: merusak atau mempunyai kelemahan. Karena seluruh amalan yang mereka ada-adakan dalam agama dan juga yang mansukh (terhapus dengan syariat Islam) sifatnya merusak. Sedangkan amalan-amalan mereka yang tidak mansukh mempunyai banyak kelemahan, dan masih mengalami proses penambahan atau pengurangan dalam syariat Islam.
3. Menyelisihi mereka merupakan sebab jayanya agama Islam.
4. Menyelisihi mereka termasuk tujuan utama diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
5. Dengan menyelisihi mereka akan terbedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir, dan tidak saling menyerupai satu dengan yang lainnya. (Diringkas dari kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, juz 1 hal. 197, 198, 209, dan 365)
Kaum Muslimin Rahimani wa rahimakumullah!
Insan Muslim yang bertaqwa akan senantiasa menjaga mashlahat dan madharrat dalam kehidupannya. Beramal dengan tanpa ilmu merupakan bencana dan madharrat yang sangat memilukan. Fenomena Terorisme, merupakan keadaan yang sangat menyedihkan. Dipicu semangat beramal, meraih kemulian dan syahid dijalan Allah, membangkitkan sebagian pemuda yang miskin llmu dan lepas dari bimbingan Ulama Ahlussunah, sehingga berani melakukan tindakan-tindakan yang konyol, seperti; anarkhisme, teror, bomber, penghasutan kepada pemerintah dan kenistaan yang lainnya. Rasulullah bersabda:
سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)
Hal yang wajib bagi para Ulama dan Da’i untuk memberikan pencerahan kepada umat tentang hakekat terorisme, karena gerakan neo-khawarij ini selalu berhujah dengan kepandiran dalam memahami permasalahan jihad, ayat-ayat perjuangan, dan sisi-pandang yang salah dalam memahi konsep negara Islam. Sehingga kondisi ini menjerumuskan mereka dalam tumpukan dosa yang mengerikan.
Ketahuilah bahwa ketaatan terhadap hal yang ma’ruf kepada pemerintah muslim merupakan bagian landasan agama yang agung. Adanya kekurangan, kesalahan dan pelanggaran hak yang dilakukan penguasa, merupakan keadaan yang harus disikapi dengan ilmu agama.
Salamah bin Yazid al-Ju’fi radhiyallahu’anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Nabi Allah! Bagaimana pendapat anda jika ada pemimpin-pemimpin yang menguasai kami yang meminta agar hak-hak mereka dipenuhi namun mereka menghalangi kami dari mendapatkan hak-hak kami, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami di saat seperti itu?” Maka beliau pun berpaling darinya. Lalu dia pun bertanya kembali kepada beliau dan beliau pun berpaling darinya. Lalu dia bertanya untuk kedua atau ketiga kalinya maka al-Asy’ats bin Qais radhiyallahu’anhu pun menariknya seraya mengatakan (ketika itu Nabi hadir dan tidak mengingkari ucapannya, pent),
اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ
“Tetaplah kamu mendengar dan taat. Sesungguhnya dosa yang mereka lakukan itu adalah tanggungan mereka, dan wajib bagi kalian menunaikan apa yang dibebankan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Dalam hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan bahwa akan muncul sesudah beliau wafat para pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan Sunnah beliau. Di antara mereka terdapat orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan yang menjelma di dalam tubuh manusia. Mendengar hal itu Huzdaifah pun bertanya, “Apa yang harus saya lakukan wahai Rasulullah, jika saya menemui hal itu?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya- bersabda,
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Tetaplah kamu mendengar dan patuh kepada pemimpin, meskipun punggungmu harus dipukuli dan hartamu diambil. Kamu harus bersikap mendengar dan patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)
Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi bersabda,
إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نُقَاتِلُهُمْ قَالَ « لاَ مَا صَلَّوْا ». أَىْ مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَأَنْكَرَ بِقَلْبِهِ.
“Sesungguhnya akan menguasai kalian pemimpin-pemimpin yang kalian kenali kekeliruan mereka dan kalian pun mengingkarinya. Barang siapa yang membenci hal itu sungguh dia telah berlepas diri darinya. Dan barang siapa yang mengingkari sungguh telah selamat. Akan tetapi yang salah ialah apabila orang justru meridhai dan setia mengikuti kekeliruannya.” Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami perangi saja mereka itu?” Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih melaksanakan sholat.” Arti ungkapan di atas adalah, “Barang siapa yang membenci dengan hatinya dan mengingkari dengan hatinya.” (HR. Muslim)
an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran maka dia tidak berdosa semata-mata karena dia bersikap diam. Akan tetapi dia menjadi berdosa apabila dia meridhainya, tidak mau membencinya dengan hati, atau justru dengan setia mengikutinya.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj [6/485] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)
Tetapi ingatlah wahai saudaraku! Bahwa semangat dalam beragama yang terbimbing dengan ilmu agama yang benar, bukanlah pemandangan yang berbahaya atau mengkhawatirkan, bahkan ini adalah kemenangan dan barakah. Baragam Syiar yang dhohir seperti; rajin shalat, berjubah, berjanggut, mengangkat kain diatas mata kaki, cadar dan syiar yang lainnya merupakan ajaran Islam yang murni, bukan simbul kejelakan apalagi simbul terorisme. Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian.” (Al-Ahzaab:21)
Perilaku Rasulullah merupakan qudwah dan bimbingan untuk umatnya, kehidupanya adalah tafsir yang utuh terhadap Al-Qur’an. Maka ketika seseorang akan mencontoh Nabinya berarti, dia telah mengambil langkah yang terbaik dan merupakan kemengan.
Kaum Muslimin rahimakumullah!
Dangkalnya pemahaman terhadap agama juga menjerumuskan sebagian manusia dalam perilaku dan sikap yang salah. Tuduhan bahwa da’wah Syeikh Muhammad bin Abdul wahab sebagai akar gerakan terorisme masakini adalah kedholiman dan penghasutan. Tidak ada satupun dari karya beliau yang membimbing untuk bersikap anarkhis apalagi mengajak menjadi neo khawarij.
Dalam sejarah memang ada aliran sesat yang dinamakan gerakan Wahabi yang nota benenya merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad kedua hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -ed), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H.
Dalam ambisi untuk menanamkan perpecahan dan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum munafiq memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi) dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk menghantam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang mengajak untuk memurnikan Islam. Karena dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam. Contohnya Inggris menggulirkan isue wahabi di India, Prancis menggulirkan isu wahabi di Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia, dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi. Semua itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.
Seakan bola salju yang menggelinding, pencacian terhadap da’wah syeikh Muhammad Bin Abdul wahab menjadi jamuan yang lazim dipasar pemikiran global masakini. Seakan mereka menutup mata bahwa yang diajarkan beliau adalah jalan yang selalu diperjuangkan para Ulama salafusholih sebelum beliau. Tidaklah beliau menyebutkan permasalah dalam agama kecuali beliau mengiringi dengan dalil dari al-Qur’an dan alhadits dan pendapat para salaf.
Kaum Muslimun Rahimani wa rahimakumullah!
Akhir kalam marilah kita bangkitkan semangat ber-ibadah dengan Ilmu, dan senantiasa mengiringi usaha dengan doa dan bertawakal. Semoga Allah memberikan bimbingan dan hidayah-Nya kepada kita dan kepada pemimpin negeri. Amin Ya Robbal Alamin.
Sumber: http://darussunnah.or.id/artikel-islam/nasehat/kembali-kepada-keutuhan-dalam-beragama/#more-800
Bismillah,
Informasi buat ikhwah yang berada di daerah Jambi dan sekitarnya, bahwa lokasi Kajian Salafi tiap hari ahad pagi pukul 10.00 yang biasanya bertempat di Masjid Nurdin Hasanah selama bulan Ramadhan ini akan berpindah tempat sementara di Masjid Ad Din yang terletak di Jl. Gotong royong (Samping Stimik, atau depan MM).
Demikian informasi buat ikhwah sekalian, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Alhamdulillah, segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah semata. Shalawat
dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wassallam, keluarga, sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau
hingga akhir masa.
Pada tahun 1430 H ini, insya Allah akan kembali diselenggarakan
daurah ilmiah bersama para masyayikh Ahlus Sunnah dari Timur Tengah.
Daurah yang kelima ini insya Allah akan menghadirkan
beliau, hafizhahumullahu jami’an :
1. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari (Saudi Arabia)
2. Asy-Syaikh ‘Abdullah ibn Shalfiq Azh-Dzufairi (Saudi Arabia)
3. Asy-Syaikh ‘Ali ibn Yahya Al-Haddadi (Saudi Arabia)
4. Asy-Syaikh Khalid ibn Dhahwi Azh-Zhafiri (Kuwait)
Tema :
“Jalan Keluar dari Problematika Hidup adalah
Kembali kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dengan bimbingan para Ulama”
Daurah insya Allah akan dilaksanakan pada:
Waktu:
Hari Sabtu – Senin, Tanggal 25 – 27 Juli 2009 / 2 - 4 Sya’ban 1430 H
Pukul 09.00 WIB - selesai
Tempat: Masjid Agung Manunggal, Bantul, DIY **)
Peserta :
Umum (ikhwan/laki-laki)
(Akhwat/ummahat mengikuti lewat link di beberapa tempat *))
Informasi selengkapnya silakan menghubungi panitia sbb :
Alamat : Jl Godean Km 5, Gg Kenanga 26B, Patran RT 1/RW 1, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY
Email : redaksi @ majalahsyariah.com
(Dapatkan info otomatis, kirim email kosong ke alamat daurah @ salafy.or.id)
Telpon : +62.81328022770 +62.274.626439
>>> Diharapkan menyebarkan informasi ini secara luas dengan alamat halaman situs ini http://daurah.salafy.or.id. Apabila ada perubahan, insya Allah akan diinformasikan lewat situs ini atau majalah Asy Syariah. Update terakhir 19 Juni 2009 pukul 17.07 WIB <<<
*** Insya Allah disiarkan lewat Paltalk, room Religion & Spirituality - Islam - Salafiyyin, nick name salafiyyin *** [Petunjuk pemakaian Paltalk, simak di www.salafy.or.id/upload/paltalk.zip ]
Jazakumullah khairan atas perhatian ikhwah semua.
Ttd
Panitia Pelaksana Daurah Ilmiah Ahlus Sunnah
Insya Allah akan disiarkan LIVE secara online melalui paltalk room Islam oleh panitia dan direlay streaming Radio Syiar Sunnah ( http://radio.darussunnah.or.id ) dan Radio Online An-Nashihah (http://an-nashihah.net)
Catatan :
*) Telelink untuk peserta wanita (ummahat/akhwat), insya Allah di
• Tarbiyatul Aulad Ibnu Taimiyyah, Jl. Palagan Tentara Pelajar, Sedan, alamat no 99 C RT 06/34, Dn Sedan, Ds. Sariharjo, Kec. Ngaglik, Sleman 55582
• TK/Ma’had Ar-Ridho Putra, Jalan Parang Tritis Km 6, RT 6, RW 46, Dn Dagaran, Kel Bangunrejo, Kec. Sewon, Bantul
• TK Ar-Ridho Putri, Glagah Sari UH IV/ 538 RT 21/ RW 05 Kelurahan Warung Boto, Jogjakarta 55164
**)
Rute menuju lokasi
1. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo via pesawat :
a. Menuju Bandara Adisutjipto, Jogjakarta
b. Naik taksi/ojek/kendaraan ke terminal Giwangan, Jogjakarta
c. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
2. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Surabaya, Solo via bus :
a. Turun di terminal Giwangan, Jogjakarta
b. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta
no 6
3. Rute menuju lokasi dari Semarang via bus :
a. Turun di terminal Jombor, naik bus kota jurusan terminal Giwangan, Jogjakarta
b. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
4. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo via kereta api :
a. Menuju stasiun Tugu/Lempuyangan, Jogjakarta
b. Naik bus kota menuju terminal Giwangan, Jogjakarta
c. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
5. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo via kendaraan
pribadi :
a. Dari Jakarta, Purwokerto, Cilacap, Semarang, Surabaya, menuju Jogjakarta, setelah masuk Jogjakarta, temukan plang ke kota Bantul yang ada di Jl. Ringroad Selatan, perempatan Dongkelan.
b. Lantas arahkan kendaraan ke selatan masuk Jalan Bantul untuk menuju ke kota Bantul, sampai gapura kota Bantul. Ikuti jalan sampai perempatan pertama (Klodran). Lokasi masjid Agung Manunggal, Bantul dari utara di sebelah kanan
6. Rute menuju lokasi dari sekitar Jogjakarta :
a. Dari terminal Jombor/halte Trans Jogja, ke terminal Giwangan Jogjakarta, naik bus Koperasi Abadi jurusan Bantul turun di perempatan Klodran (Masjid Agung Bantul)
b. Dari terminal Giwangan Jogjakarta, naik bus Koperasi Abadi jurusan Bantul turun di perempatan Klodran (Masjid Agung Bantul)
c. Dari arah Semarang turun di perempatan Dongkelan (Jl. Ringroad Selatan), naik bus Koperasi Abadi turun di perempatan Klodran (Masjid Agung Bantul)
WASIAT DAN NASEHAT AL-‘ALLAMAH ASY-SYAIKH RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI Hafizhahullah Tabaraka wa Ta’ala Kepada Saudara-saudaranya Para Penuntut Ilmu As-Salafiyyin di Indonesia
Beliau sampaikan pada acara Daurah Ilmiah Asatidzah ke-4 di Ma’had Al-Anshar Yogyakarta - Indonesia
malam Rabu, 4 Sya’ban 1429 H
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد
Sungguh suatu kesempatan yang sangat istimewa saya bisa berjumpa dengan saudara-saudara, orang-orang yang saya sayangi, dan anak-anak kami dari kalangan para penuntut ilmu as-salafiyyin di Indonesia dalam pertemuan yang penuh barakah ini, yang saya mohon kepada Allah agar menjadikannya sebagai pertemuan yang bermanfaat.
Saudara-saudaraku menunggu dariku nasehat yang aku sampaikan untuk mereka.
Maka saya katakan :
® Aku wasiatkan kepada diriku sendiri dan kalian semua untuk bertaqwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan muraqabah (senantiasa merasa diawasi) oleh-Nya, baik ketika bersendiri maupun terang-terangan (di hadapan orang banyak).
® Aku wasiatkan kepada diriku sendiri dan mereka untuk berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya r, baik dalam aqidah, ibadah, maupun manhaj.
® Saya wasiatkan pula kepada mereka untuk mencintai as-salafush shalih dan menghormati mereka serta berjalan di atas jalan mereka, berteladan dengan bimbingan mereka, yang paling utama dari mereka adalah para shahabat ridhwanallah ‘alaihim.
[sambungan telepon terputus. kemudian beliau mengulangi lagi nasehatnya dari awal]
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد :
Sungguh telah membuat saya gembira bisa berjumpa dengan anak-anak, saudara-saudara, dan orang-orang yang saya sayangi, yaitu para thullabul ilmi (penuntut ilmu) as-salafiyyin di Indonesia. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang diberkahi dan bermanfaat.
Mereka meminta kepada saya sebuah nasehat yang ditujukan untuk mereka. Maka akan saya penuhi sebatas yang mampu saya lakukan untuk saudara-saudaraku. Kami memohon kepada Allah semoga menjadikan nasehat ini bermanfaat untuk mereka.
Maka saya berkata :
[ Nasehat Pertama ][1]) :
® Aku wasiat kepada diriku dan saudara-saudaraku di Indonesia dan semua saudaraku di berbagai negeri untuk selalu bertaqwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan muraqabah (senantiasa merasa diawasi) oleh-Nya, baik ketika bersendiri maupun terang-terangan (di hadapan orang banyak). Sebagaimana Allah Tabara wa Ta’ala memerintahkan kita semua untuk bertaqwa kepada-Nya dalam banyak ayat-Nya, dan Allah telah menjelaskan kepada kita tentang balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang bertaqwa, yaitu berupa jannah yang luasnya seluas seluruh langit dan bumi, dan juga Allah telah memuji orang-orang yang bertaqwa. Saya berharap kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.
Aku juga berharap dari diriku sendiri dan saudara-saudaraku untuk senantiasa merasa dalam pengawasan Allah Tabaraka wa Ta’ala, dalam segala ucapan, perbuatan, gerakan, dan segala tindakan kita dalam segala urusan kita, semuanya harus ditegakkan dia atas sikap selalu merasa di bawah pengawasan (muraqabah) Allah Tabaraka wa Ta’ala. Bahwasanya :
((مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)) ق: ١٨
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatat). [Qaf : 18]
Hendaknya kita merasa senantiasa diawasi oleh Allah dalam shalat kita, dan hendaknya kita beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, jika kita tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia (Allah) selalu melihat kita.
[ Nasehat Kedua ]
® Berikutnya aku wasiatkan kepada diriku sendiri dan mereka untuk selalu ikhlash kepada Allah, dalam setiap ucapan dan amalan. Karena semua ucapan tersebut selalu diperhitungkan dan diawasi (oleh Allah). Baik terkait dengan urusan agama kita maupun terkait dengan urusan dunia kita. Hendaknya setiap orang berbicara (dalam urusan agama Allah) dengan ucapan yang ia yakini sebagai suatu kebenaran, setelah upaya tatsabbut (klarifikasi) dan ta`akkud (memastikan) kebenarannya. Bahwa perkataan yang ia ucapankan adalah sebuah kebenaran. Kalau tidak ia lakukan upaya tersebut, maka sungguh ia telah termasuk orang-orang yang berucap atas nama (agama) Allah tanpa berdasarkan ilmu. Allah I berfirman :
((إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ)) الأعراف: ٣٣
Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, serta melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, dan (Rabbku juga mengharamkan) perbuatan syirik terhadap Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) berkata atas nama (agama) Allah dengan sesuatu yang tidak kalian ketahui.” [Al-A’raf : 33]
Atas dasar itu (perlu diketahui bahwa) segala ucapan kita diawasi dan diperhitungkan. Seluruh hati kita juga diawasi. Tidaklah tersembunyi bagi Allah perkara yang samar sekalipun.
Perkara-perkara penting di atas banyak tidak diketahui oleh mayoritas manusia, baik dalam berbagai tindakan dan ucapan, maupun sikap-sikap mereka. Mereka tidak lagi merasakan muraqabah (pengawasan) Allah terhadap mereka. Sehingga mereka berbicara dengan ucapan yang tidak diridhai Allah, atau ucapan yang membuat Allah marah, bisa jadi dalam rangka memuaskan hawa nafsunya atau dalam rangka membuat senang orang lain. Kita berlindung kepada Allah dari tindakan (tercela) semacam itu. Saya mintakan perlindungan (kepada Allah) untuk diriku dan saudara-saudaraku semua dari sikap tersecela tersebut, dan saya nasehatkan kepada diri saya sendiri dan mereka untuk selalu menjauhinya.
[ Nasehat Ketiga ]
® Ketiga : saya nasehatkan kepada diri saya sendiri dan juga mereka untuk selalu berpegang teguh kepada tali (agama) Allah Tabaraka wa Ta’ala, sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkannya dalam firman-Nya :
((وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا)) آل عمران: ١٠٣
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai. Hendanya kalian ingat akan nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) saling bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian dengan nikmat tersebut Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara.” [Ali ‘Imran : 103]
Sebagaimana pula wasiat yang Rasulullah e sampaikan kepada kita, dalam sabdanya yang mulia :
(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي، وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ))
‘Wajib atas kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnah para al-khulafa ar-rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Waspadalah dari amalan baru yang diada-adakan dalam agama, karena setiap amalan baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” [2])
Maka hendaknya kita semua senantiasa berpegang teguh kepada tali (agama) Allah, dan hendaknya kita senatiasa mengikuti petunjuka Allah, dalam seluruh urusan aqidah, ibadah, dan metode pemahaman kita dalam seluruh urusan agama kita. Hendaknya kita senantiasa berpegang kepadanya, kita menggigitnya dengan gigi geraham. Kita tidak akan bisa merealisasikan hal itu kecuali dengan bimbingan ilmu yang shahih (benar), yang bersumber dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah r, dengan metode pemahaman para shahabat yang mulia, dan metode pemahaman orang-orang yang mengikuti jejak para shahabat dengan baik. Bukan dengan cara mengikuti hawa nafsu, tidak pula dengan cara mengikuti para pengikut hawa nafsu, atau orang-orang yang bodoh. Melainkan kita hanya mengikuti jejak Rasulullah e, dalam perjelasan beliau -’alaihish shalatu was salam- terhadap Al-Qur`anul Karim, rincian beliau terhadap perkara-perkara yang masih bersifat global dalam Al-Qur`an, penjabaran beliau terhadap perkara-perkara yang sulit, dan pengecualian beliau terhadap perkara-perkara yang bersifat mutlak dalam Al-Qur`an. Sebagaimana pula kita mengikuti metode pemahaman para shahabat dalam hal itu, yang mereka itu adalah orang-orang telah menyaksikan Rasulullah r, menyaksikan praktek amaliah beliau, dan menyaksikan proses turunnya wahyu, sekaligus mereka mengetahui dalam perkara apa suatu surat (dari Al-Qur`an) diturunkan, serta dalam perkara apa ayat tersebut diletakkan. Maka mereka (para shahabat) adalah manusia yang paling paham dan paling berilmu tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah r.
Kemudian generasi tabi’in, telah mengambil ilmu dan metode pemahaman tersebut dari para shahabat dengan penuh kebaikan. Berikutnya, para imam (’ulama) yang mendapat petunjuk juga mengambil (ilmu dan metode pemahaman) tersebut dari para tabi’in.
Maka kita semua harus mengetahui hal tersebut, dan hendaknya kita menggigitnya dengan gigi geraham. Hendaknya kita mengikut jejak pemahaman kaum mu`minin serta tidak menentang mereka sedikitpun, baik dalam urusan bidang aqidah, maupun ibadah, serta urusan yang lainnya. Allah I berfirman :
(( ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدي ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصليه جهنم وساءت مصيرا )) النساء: ١١٥
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, serta mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mu`minin, maka Kami biarkan ia tersesat dalam kesesatannya, kemudian Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisa` : 115]
[ Nasehat Keempat ]
® Wajib atas kita untuk mempelajari kitab-kitab tafsir salafy, yang bersih dari berbagai bid’ah dan kesesatan. Seperti : Tafsir Ibni Jarir [3]), Tafsir Ibni Katsir [4]), Tafsir Al-Baghawi [5]), Tafsir As-Sa’di [6]). Wajib pula atas kita semua untuk mempelajari Sunnah (hadits-hadits) Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam dengan metode pemahaman generasi salaf yang shalih, seperi kitab Shahih Al-Bukhari [7], Shahih Muslim [8]), Kitab-kitab Sunnan yang empat [9]), Musnad Al-Imam Ahmad [10]), dan kitab-kitab sunan lainnya. Kemudian kita mengamalkan semua hadits yang terdapat dalam Ash-Shahihahin (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan hadits-hadits shahih yang terdapat kitab-kitab lainnya, yang tingkat keabsahannya telah mencapai tingkat kepastian dan derajat hasan.[11]) Namun bersama itu, mungkin saja didapati hadits-hadits yang lemah, maka tidak boleh kita menentukan hukum berdasarkan hadits-hadits dha’if tersebut. Karena tidak boleh bagi kita semua menisbahkan (suatu perkataan) kepada Allah dan Rasul-Nya kecuali sesuatu yang telah kita yakini bahwa perkataan bersumber bersumber dari Allah dan Rasul-Nya e, yang sampai kepada kita melalui jalur periwayatan para perawi yang tsiqah (terpercaya), adil, kokoh, dan kuat (hafalannya).
Kita juga wajib mempelajari kitab-kitab aqidah salafiyyah, seperti kitab Ushulus Sunnah karya Al-Imam Ahmad, Ushulus Sunnah karya Ibnu Abi Hatim, yang ia riwayatkan dari ayahnya (Abu Hatim) dan dari Abu Zur’ah (Ar-Razi), kemudian kitab As-Sunnah karya Al-Khallal [12]), Asy-Syari’ah [13]) karya Al-Ajurri [14], Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalika`i [15]), dan kitab-kitab aqidah lainnya. Kita juga mempelajari Kitabut Tauhid [16]) karya Muhammad bin ‘Abdil Wahhab [17]), kitab Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah (karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) [18], dan segenap kitab-kitab karya Ibnul Qayyim [19]) dan Ibnu Taimiyyah [20]), semoga Allah merahmati mereka semua. Karena kitab-kitab tersebut menambah pemahaman kita terhadap Kitabullah, dan pengetahuan terhadap manhaj as-salafush shalih dalam bidang aqidah, ibadah, dan akhlaq.
[ Nasehat Kelima ]
® Wajib atas kita semua untuk mengikhlashkan (niat) kepada Allah dalam menuntut ilmu. Karena sesungguhnya menuntut ilmu termasuk ibadah yang terbesar, bahkan termasuk jihad fi sabilillah Tabaraka wa Ta’ala yang terbesar. Orang yang menuntut ilmu ikhlash karena Allah, pasti ia menginginkan untuk mendapatkan bimbingan dengan ilmu tersebut kepada amalan yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala, serta menginginkan untuk mengajak manusia kepada bimbingan hidayah. Sehingga dia berupaya menyelamatkan dirinya dari kesesatan dan kejahilan sekaligus ia berupaya serius untuk menyelamatkan orang lain dengan bimbingan ilmu yang dibawa oleh Nabi Muhammad e.
[ Nasehat Keenam]
® Kemudian, saya wasiatkan kepada mereka untuk saling bersaudara, saling bersikap bijak, saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengunjungi ikhlash karena Allah, dan menghidupkan manhaj salaf dalam ukhuwwah dan mahabbah (sikap mencintai) tersebut. Kecintaan yang didasarkan ikhlash karena Allah memiliki kedudukan yang tinggi. Kecintaan yang didasarkan ikhlash karena Allah dan di jalan Allah memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala, setelah rasa cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya e.
Rasulullah r bersabda :
(( لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ ِلَنَفْسِهِ ))
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana kecintaan dia terhadap dirinya sendiri.” [21])
Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
(( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ))
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian tidak akan masuk al-jannah sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu amalan yang bila kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” [22])
Maka tebarkanlah salam ikhlash karena mengharap wajah Allah, dengan engkau bertujuan untuk menyatukan hati saudara-saudaramu dan menampakkan kepada mereka bahwa engkau mencintai dan menghormati mereka. Maka mereka akan membalas sikap tersebut dan mengucapkan salam pula kepadamu, dalam rangka mewujudkan mahabbah (sikap cinta karena Allah) tersebut, sekaligus menjadikan amalan tersebut sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan kepada keridhaan Allah dan mengantarkan untuk masuk al-jannah, karena amalan ini (menebarkan salam) di antara jalan terbesar untuk bisa masuk al-jannah, yang telah diberitakan kepada kita oleh Rasulullah e bahwa kita tidak akan masuk al-jannah kecuali kalau kita mengamalkan dengan sungguh-sungguh sebab-sebab (yang mengantarkan kepada al-jannah) tersebut.
Maka hendaknya kalian berupaya untuk saling memahami, dan saling bersikap lembut, serta saling mengujungi antara kalian. Jauhilah sebab-sebab perpecahan, perselisihan, saling membenci, saling hasad, dan yang semisalnya.
Rasulullah r bersabda :
(( لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ))
“Janganlah kalian saling hasad, saling benci, saling menipu (dalam jual beli) [23]), namun jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” [24])
Jadilah kalian demikian, sebagaimana Rasulullah e mewasiatkan kepada kalian.
Inilah yang bisa saya nasehatkan dan aku wasiatkan serta saya tekankan kepada kalian. Dengan itu Insya Allah dalam merealisasikan tujuan mulia yang diridhai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Saya memohon kepada Allah untuk mempersatukan qalbu-qalbu ini, dan menjauhkan dari kami dan kalian semua berbagai fitnah, dan menjauhkan kami dan kalian semua dari sebab-sebab perpecahan dan perselisihan. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar do’a.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sampaikan salamku kepada ikhwah semuanya, dan tekankan nasehat ini kepada saudara-saudara kalian. Hayyakumullah wa ahlan wa sahlan …
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Selesai diterjemahkan dan diberi catatan kaki
Pada hari Senin, 16 Sya’ban 1429 H / 18 Agustus 2008 M.
Al-Faqir ilallah, Abu ‘Abdillah Luqman bin Muhammad Ba’abduh
[1] Pemberian sub judul di antara dua kurung siku [ ] dari penerjemah, untuk memudahkan.
[2] HR. Ahmad (IV/126), Abu Dawud (4607), At-Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (42,43) dari shahabat Al-’Irbadh bin Sariyah t. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 937, dan Al-Irwa’ no. 2455.
[3] Judul selengkapnya adalah Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an karya Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari (w. 310 H). Kitab tafsir beliau merupakan rujukan utama dalam bidang tafsir. Para ‘ulama besar sepakat bahwa tidak ada kitab tafsir yang sebanding dengannya. Di antaranya, Al-Imam An-Nawawi mengatakan : “Tidak seorang pun yang mampu menyusun (kitab tafsir) seperti beliau.” Beliau banyak membawakan riwayat-riwayat dalam tafsirinya.
[4] Judul selengkapnya adalah Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim karya Al-Hafizh ‘Imadudin Abu Fida` Isma’il bin Katsir Ad-Dimasyqi (w. 774 H). Kitab tafsir beliau merupakan kitab refensi penting dalam perbendaharaan tafsir salafiyyah. Kitab beliau banyak dipuji oleh para ‘ulama ahlus sunnah.
[5] Judulnya adalah Ma’alamut Tanzil karya Muhyis Sunnah Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi (w. 516 H).
[6] Judulnya adalah Taisiril Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (1376 H). Kitab tafsirnya beliau susun dengan ringkas dan mudah, namun terdapat sekian banyak istinbath beliau yang sangat jeli dan cermat dalam menunjukkan berbagai hikmah, faidah, dan hukum dari suatu ayat.
[7] Yaitu kitab Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah r wa sunanihi wa ayyamihi yang dikenal dengan (Shahih Al-Bukhari), karya Al-Imam Al-Hafizh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari (w. 256). Beliau adalah seorang ‘ulama muhaddits (pakar hadits) besar. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata ketika memuji beliau : “Seorang imam, penyusun kitab ash-shahih, beliau seorang imam, hafizh, hujjah, terkemuka dalam bidang fiqh dan hadits, mujtahid, termasuk salah satu ‘ulama istimewa, diiringi dengan agama (keimanan) yang kokoh, sifat wara’, dan ibadah.” [lihat Al-Kasyif]. Kaum muslimin sepakat bahwa kitab Shahih Al-Bukhari merupakan kitab tershahih setelah Al-Qur`anul Karim. Beliau menyusun kitab shahihnya selama 16 tahun, kemudian beliau merapikan susunan hadits dan bab-bab fiqh yang beliau letakkan di Raudhah Masjid Nabawi (tepat antara kamar Nabi dan mimbar beliau). Kitab tersebut terdiri atas 7563 hadits.
[8] Yaitu kitab Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar minas Sunan binaqli Al-’Adl ‘an Al-’Adl ‘an Rasulillah r yang dikenal dengan (Shahih Muslim), karya Al-Imam Al-Hafizh Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyari An-Nasaburi (w. 261 H). beliau merupakan seorang hafizh besar, murid besar Al-Imam Al-Bukhari. Sampai-sampai dikatakan : “Huffazh-nya dunia ini ada empat : Abu Zur’ah di negeri Ar-Ray, Muslim bin Al-Hajjaj di negeri Naisabur, ‘Abdullah Ad-Darimi di negeri Samarqand, dan Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari di negeri Bukhara.” Kaum muslimin sepakat bahwa kitab Shahih Muslim merupakan kitab tershahih setelah kitab Shahih Al-Bukhari. Beliau menyusun kitab shahihnya selama 15 tahun, terdiri atas 7275 hadits.
[9] Yaitu kitab :
a. Sunan Abi Dawud karya Al-Imam Al-Hafizh Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Ishaq Al-Azdi (w. 275 H). padanya terdapat kurang lebih 5274 hadits.
b. Al-Jami’ Al-Mukhtashar min As-Sunan ‘an Rasulillah r wa Ma’rifatish Shahih wal Ma’lul wa ma ‘alaihi Al-’Amal (Sunan At-Tirmidzi) karya Al-Imam Al-Hafizh Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi (w. 279 H). Padanya terdapat 3956 hadits.
c. As-Sunan Ash-Shughra Al-Mujtaba min As-Sunan (Sunan An-Nasa`i) karya Al-Imam Al-Hafizh Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasa`i (w. 303 H). Padanya terdapat 5761 hadits.
d. Sunan Ibni Majah karya Al-Imam Al-Hafizh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah (w. 273 H). Padanya terdapat 4341 hadits.
Semua kitab sunan di atas tersusun berdasarkan peletakan bab-bab fiqh ibadah dan berbagai permasalahan dalam bidang aqidah, mu’amalah dan akhlaq berdasarkan metode pemahaman generasi as-salafush shalih.
[10] Karya Al-Imam Al-Hafizh Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy-Syaibani (w. 241). Beliau bergelar Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Salah seorang imam madzhab yang empat, murid besar Al-Imam Asy-Syafi’i. Kitab ini beliau susun berdasarkan susunan para shahabat yang meriwayatkan hadits, diawali dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, kemudian para shahabat yang telah dijamin dengan al-jannah, … dst.
[11] Terlebih lagi kalau haditsnya shahih.
[12] Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Harun bin Yazid Al-Khallal Al-Hanbali (w. 311 H).
[13] Berjudul Kitab Asy-Syari’ah. Kitab ini membahas tema aqidah islamiyyah berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan menjelaskannya berdasarkan Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya dan sunnah para Al-Khulafa Ar-Rasyidin, kemudian metode para tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ‘ulama ahlus sunnah yang mulia setelah mereka. Di samping juga berisi bantahan terhadap kelompok-kelompok sesat yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
[14] Beliau adalah Al-Imam Al-Muhaddits Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri (w. 360 H). Al-Imam Ahmad memuji beliau dengan mengatakan : “Beliau telah mengumpulka ilmu dan sifat zuhd, serta beliau menyusun banyak karya tulis.” Al-Imam Adz-Dzhahabi berkata ketika memuji beliau : “Al-Imam Al-Muhaddits (pakar hadits), Al-Qudwah (panutan), Syaikhul Haram Asy-Syarif.”
[15] Beliau adalah Abul Qasim Hibatullah bin Al-Hasan bin Manshur Ath-Thabari Ar-Razi Asy-Syafi’i Al-Lalika`i (w. 418 H).
[16] Kitabut Tauhid alladzi Huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid. Merupakan kitab yang beliau susun menjelaskan tentang hak Allah terhadap hamba, sekaligus menjelaskan secara detail tentang tauhidul uluhiyyah, tauhidur rububiyyah, dan tauhid al-asma wash shifat beserta segala yang terkait dengannya. Merupakan kitab terbaik dalam bidang tauhid. Ciri khas beliau dalam cara penyusunan adalah mirip dengan metode Al-Imam Al-Bukhari dalam menyusun kitab Shahih Al-Bukhari.
[17] Beliau adalah Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi (w. 1206 H). Beliau adalah pengibar bendera tauhid. Mujaddid abad ke-12 hijriah. Dakwah tauhid yang beliau tegakkan mendapat sambutan luar biasa dari kaum muslimin, baik di jazirah arab maupun di luar jazirah arab. Di antara wujud nyata keberhasilan dakwah tauhid yang beliau bawa adalah :
a. Tegaknya Daulah Islamiyyah, yaitu Al-Mamlakah As-Su’udiyyah Al-A’rabiyyah (Kerajaan Saudi ‘Arabia).
b. Pembersihan aqidah umat dari berbagai kotoran syirik, bid’ah, dan khurafat.
c. Tersebarnya dakwah aqidah salafiyyah di segenap penjuru alam.
Dan masih banyak lagi hasil-hasil nyata dakwah tauhid penuh barakah yang beliau tegakkan.
[18] Kitab Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah merupakan kitab aqidah ringkas yang disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam waktu yang sangat singkat yaitu antara ba’da ‘ashar hingga maghrib. Namun demikian kitab tersebut memiliki bobot ilmiah yang sangat tinggi, yang menunjukkan bobot dan kualitas keilmuah dan keshalihan penulisnya. Kitab tersebut beliau susun memenuhi permintaan seorang qadhi negeri Wasath. Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dalam tauhid al-asma wash shifat , rukun-rukun iman, Hari Akhir, sekaligus bantahan terhadap kelompok-kelompok sesat yang menyimpang dari aqidah dan manhaj yang haq.
[19] Beliau adalah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d (w. 751 H), yang terkenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau adalah murid besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. beliau memiliki banyak karya tulis. Di antara karya monumental beliau adalah :
- I’lamul Muwaqqi’in - Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah
- Ash-Shawa’iqul Mursalah - Ightsatul Lahafan
- Zadul Ma’ad - Thariqul Hijratain
- Madarijus Salikin - dan masih sangat banyak lagi.
[20] Beliau adalah Syaikhul Islam Al-Hafizh Al-Mujtahid Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdil Halim bin ‘Abdis Salam bin Taimiyyah Al-Harrani (w. 728 H). beliau adalah seorang ‘ulama brilian dan jenius. Seorang mujtahid besar sekaligus mujaddid. Kewibaan dan kepiawaian ilmiahnya diakui kawan dan lawan. Perjalanan hidup dan sejarah beliau sangat harum dan layak ditulis dengan tinta emas. Sangat kuat dalam mendakwah manhaj yang haq dan sangat kuat pula dalam membantah kebatilan sekligus mematahkan hujjah-hujjah para pembelanya. Beliau sangat dimusuhi oleh para pengusung paham menyimpang dan kebatilan dari semua kalangan, baik Syi’ah, Jahmiyyah, Khawarij, Mu’tazilah, Ahlul Kalam, Shufiyyah, dan sebagainya. Digambarkan oleh Al-Hafizh Ibnu Daqiq Al-’Ied tentang kepiawaian beliau dalam memaparkan ilmu, berargumen dan mematahkan hujjah-hujjah lawan, bahwa segala perbendaharaan ilmu ada di antara kedua matanya, yang beliau mengambilnya sesuai dengan apa yang beliau mau. Beliau memiliki banyak karya tulis dan risalah-risalah ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu, baik aqidah, tafsir, hadits, fiqh ushul, lughah, dll. Di antaranya :
- Minhajus Sunnah - Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah
- Al-Furqan Baina Auliya`ir Rahman wa Auliya`isy Syaithan - Al-Fatawa Al-Hamawiyyah
- I`qtidha`ush Shiratil Mustaqim - Kitabul Iman
- Dar`ut Ta’arudhil ‘Aql wan Naql - Al-Kalimuth Thayyib
- Muqaddimah fit Tafsir - Al-’Ubudiyyah
Dan masih sangat banyak lagi. Kemudian, karya-karya dan risalah-risalah ilmiah beliau dikumpulkan dalam Majmu’ul Fatawa.
[21] Muttafaqun ‘alaihi (Al-Bukhari no.13, Muslim no. 45). Kemudian dalam riwayat An-Nasa`i no. 5017 terdapat tambahan lafazh : من الخير (dari perkara yang baik).
[22] HR. Muslim no. 54.
[23] Dalam bentuk menampakkan dirinya seolah-oleh hendak membeli barang yang sedang ditawarkan padahal ia tidak ingin membelinya. Hal itu ia lakukan dalam rangka meninggikan harga, sehingga para pembeli lainnya tertipu, dan membeli barang tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Hal ini sering terjadi pada jual beli lelang.
[24] Muttafaqun ‘alaihi (Al-Bukhari no. 6066, Muslim no. 2563).
Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=220
Buku ini merupakan terjemahan lengkap dari risalah “Al Mabaadi Al-Mufidah fit-Tauhidi wal-Fiqih wal-Aqidah” (Basic Principle on the Subject of Tauhid, Fiqih and Aqidah) ditulis oleh Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri, salah seorang murid senior Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dan penggantinya dalam pengajaran di Institut di Damaj, Yaman.
Risalah ini dipilih karena menghadirkan prinsip-prinsip dasar Islam landasan iman dan amaliah kaum Muslimin dalam format yang mudah diikuti. Buku ini disusun poin per poin, pertanyaan dan jawaban, sehingga menjadi bahan pengenalan(terhadap agama) yang sangat bermanfaat.
Dalam mukadimahnya, penulis menyatakan bahwa dia menulis risalah ini untuk mengajarkan anak-anaknya dan juga sebagai petunjuk untuk mengajarkan remaja Muslim lainnya. Dengan maksud yang sama, risalah ini dipilih untuk diterjemahkan dengan harapan ini merupakan usaha untuk: 1) membantu Muslim yang baru belajar untuk memahami konsep dasar keyakinan Islam, 2)membantu orang tua Muslim untuk mengajarkan kepada anak-anaknya dasardasar dari agama; dan 3) sebagai bahan referensi bagi kaum Muslimin dengan pemahaman yang lebih baik dalam mengumpulkan dalil-dalil dan dasar-dasar(agama).
File Download : Klik Di Sini
Informasi kajian untuk ikhwah di daerah Jakarta dan sekitarnya
Insya Allah, akan diselenggarakan Kajian sehari dengan materi tentang "Fiqih Zakat dan Pengelolaanya Dalam Islam",
Pemateri : Al Ustadz Dzulqornain bin Muhammad Sunusi
Pada kamis, 26 Jumadil Ula 1430 H bertepatan dengan 21 Mei 2009
Akan dimulai pukul 09.00-12.00 WIB
Bertempat di Masjid Al I'tisham Sudirman - Dukuh Atas (Belakang Hotel Shangri-la)
Pokok Pembahasan :
Hukum Zakat
Adakah Zakat Profesi?
Penyalahgunaan Dana Zakat
Zakat Membangun Eknomi Umat?
Kajian terbuka untuk umum, semoga akan menjadi barokah dan bermanfaat bagi semua yang ikhlas dalam menuntut ilmu untuk mengharap ridho-Nya
Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani
Sesungguhnya termasuk perkara penting yang harus selalu kita ingat adalah wasiat-wasiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya yaitu wasiat perpisahan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya-. Dikisahkan oleh ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu sebagai berikut:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: ((أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ))
Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sholat bersama kami, kemudian beliau memberi kami sebuah peringatan yang sangat baik. Oleh karenanya, mata-mata kami berlinang dan hati-hati kami bergetar. Maka seorang berkata: “wahai Rosulullah! Seolah-olah ini adalah peringatan orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda: “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar, dan taat (kepada penguasa kalian) walaupun dia seorang budak Habsyi. Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat perselisihan yang cukup banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa` Ar-Rosyidin Al- Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing lagi mendapat petunjuk). Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah atasnya dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru dalam agama. Karena sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rohimahullah dalam kitabnya ”Al Jami’us Shohih mimma laisa fis Shohihain” 1/198-199 Cet. Daarul Atsaar Yaman)
Hadits ini merupakan wasiat yang sangat agung, di dalamnya terkandung beberapa pelajaran penting yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita tunaikan sepeninggalnya. Dengan mengamalkannya, kita tidak akan terombang-ambing dalam mengarungi ombak dan badai kehidupan dunia ini, sebelum kita menyusul beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ke alam barzakh dan akherat nanti.
Pada hadits yang mulia ini, beliau mewasiatkan tiga perkara kepada kita: yang pertama untuk setiap pribadi yang muslim, yang kedua terhadap pemerintah kaum muslimin, dan yang ketiga mengenai pengamalan agama secara benar. Adapun yang berkenaan dengan setiap pribadi yang muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah azza wa jalla.” Wasiat beliau untuk bertakwa kepada Allah merupakan wasiat yang sangat agung. Wasiat ini adalah ajaran yang menuntun kita untuk membentengi diri dengan keimanan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Seorang yang bertakwa kepada Allah niscaya akan berhasil membina dirinya. Dengan bertakwa, berarti dia berhasil pula meraih keutamaan serta ganjaran yang cukup besar disisi Allah Ta’ala. Kebaikan dunia dan akhirat terdapat dalam bertakwa kepada Allah. Sekian banyak janji Allah dalam Al-Qur’an hanya dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Di antaranya, Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan untuknya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Inilah beberapa keutamaan bertakwa kepada Allah yang akan diraih dalam menapaki kehidupan dunia ini. Allah akan membentangkan jalan keluar dari segala problema hidup yang membelitnya, Allah akan melimpahkan rezeki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan Allah akan mencukupkan kebutuhannya bila takwa disertai dengan penyandaran diri kepada-Nya. Demikianlah janji Allah kepada orang-orang yang bertakwa. Maka barangsiapa yang ingin meraih keberuntungan ini, hendaklah dia bertakwa kepada Allah. Adapun keutamaan bertakwa kepada Allah yang akan digapai dalam kehidupan kampung akherat yaitu memuaskan diri dengan mereguk berbagai kenikmatan surga yang tiada banding. Allah berfirman (yang artinya):
”Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rob kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imron: 133)
”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka inginkan. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kalian dengan enak karena amal yang telah kalian kerjakan”. (Al Mursalaat: 41-43)
”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Robmu dan pemberian yang cukup banyak”. (An Naba`: 31-36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat senada yang berbicara tentang pahala dan ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di kampung akherat nanti.
Bertakwa kepada Allah artinya melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Nya. Bertakwa adalah kalimat yang singkat tetapi pengamalannya merupakan perkara yang cukup berat. Kebanyakan manusia terombang-ambing dalam bertakwa kepada Allah diantara dua kondisi. Sebagian dari mereka tidak menunaikannya sesuai dengan yang dikehendaki dan diridhoi oleh Allah. Sedangkan sebagian yang lain berlebihan ketika mengamalkannya sehingga melampaui batas dalam beragama. Namun yang berbahagia dan beruntung adalah orang-orang yang menunaikan dan mengamalkannya sesuai dengan keridhoan Allah Ta’ala dan tidak melampui batas agama. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian meninggal dunia melainkan sebagai orang-orang yang beragama islam.” (Ali ‘Imran: 102)
Wasiat beliau yang kedua yaitu menyangkut hubungan dengan pemerintah kaum muslimin, hubungan dalam bernegara dan bermasyarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan (yang artinya): “Aku wasiatkan kepada kalian untuk mendengar dan taat walaupun yang berkuasa atas kalian adalah seorang budak Habasyi.” Ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunjukkan betapa penting mendengar dan taat kepada pemerintah yang muslim. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهُ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ يُطِعِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada penguasanya berarti dia telah taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada penguasanya berarti dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu hurairah radhiyallahu ’anhu)
Maka mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin merupakan perkara yang diperintahkan oleh Islam. Tentu saja mendengar dan taat yang diperintahkan oleh islam itu dalam batas norma-norma kebaikan. Semuanya harus berpijak kepada ajaran Al Quran dan As-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
“sunguh ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Adapun untuk yang selain kebaikan, kita tidak diperintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah. Namun bukan berarti bahwa kita diperbolehkan melakukan tindakan-tindakan yang menjatuhkan kewibawaan pemerintah tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
السُّلْطُانُ ظِلُّ اللهِ فِي اْلأَرْضِ فََمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ مَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَ اللهُ
“Penguasa itu adalah naungan Allah diatas muka bumi, maka barangsiapa yang memuliakannya niscaya dia akan dimuliakan oleh Allah. Dan barangsiapa yang menghinakannya niscaya dia akan dihinakan oleh Allah.” (HR. Ibnu Abi ’Ashim dan yang selainnya, dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu ’anhu, dihasankan oleh Syaikh Al Albani rohimahullah)
Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi”. Ini bukan berarti bahwa kita disyariatkan untuk mengangkat penguasa dari seorang budak habsyi. Sebab kekuasaan itu pada hakekatnya hendaklah diserahkan kepada seorang yang bersuku Quraisy. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اْلأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشَ
“Para pemimpin (kaum muslimin) itu adalah dari suku Quraisy”. (HR. Ahmad, At-Thabrani, Al Baihaqi, At-Thayalisi, Ibnu Abi ‘Ashim, dan yang lainnya, dari beberapa orang sahabat nabi, diantaranya: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Abu Barzah Al-Aslami, dan yang lainnya. Hadist ini dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa` no (250) )
Sedangkan dalam hadits yang lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ingin memberikan permisalan. Yang beliau lakukan ini dalam rangka mempertegas perintahnya untuk mendengar dan taat kepada pemerintah kita dalam segala kondisi, baik sewaktu sulit atau mudah, suka atau murka, bahkan walaupun mendzolimi kita, selama tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengambil ba’iat dari para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya- agar tetap mendengar dan taat kepada penguasa mereka. Sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian sahabat:
“Baik dalam keadaan kami suka maupun tidak suka”. (HR.Al Bukhari dan Muslim dari sahabat Ubadah bin As-Shamit radhiyallahu ’anhu)
Adapun wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketiga yaitu mengenai pengamalan agama secara benar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
“Barangsiapa yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat perselisihan yang cukup banyak”.
Yakni perselisihan dalam masalah agama. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“ Wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa` Ar-Rosyidin Al- Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing lagi mendapat petunjuk)”.
Yakni berpegang kepada ajaran agama yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, secara lebih khusus para Khulafa` Ar-Rosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya-. Perintah beliau ini membimbing kita untuk memahami agama sesuai dengan Sunnahnya dan pemahaman para sahabatnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah atasnya dengan gigi-gigi geraham kalian”.
Pernyataan ini merupakan penekanan yang extra dalam memegang sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sekuat-kuatnya, sampai diibaratkan seperti menggigitnya dengan gigi-gigi geraham. Seorang yang menggigit dengan gigi-gigi gerahamnya terbukti lebih kuat daripada yang menggigit dengan gigi-giginya yang lain. Bahkan gigitannya tidak akan mampu dilepaskan walaupun dengan tarikan yang menghentak kecuali jika gigi-gigi geraham itu telah tercabut dari akarnya.
Maksud dari semua ini yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memegang teguh sunnahnya dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Sebab di masa belakangan sepeninggal beliau nanti, akan terjadi perkara-perkara baru dalam agama yang memancing kita untuk mengikuti angkara murka hawa nafsu kita. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“ Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru dalam agama. Karena sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat”.
Wallahu a’lam bish shawab
Sumber : http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/28/wasiat-fundamental-yang-terabaikan/#more-46
Oleh : Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani
Merupakan suatu perkara yang tidak bisa disangkal, bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan. Yang mengingkari hal tersebut hanyalah segelintir orang. Itu pun karena mereka tidak menggunakan akal sesuai dengan fungsinya. Sebab akal yang sehat akan mengetahui bahwa setiap yang tampak di alam ini pasti ada yang mewujudkan. Alam yang demikian teratur dengan sangat rapi tentu memiliki pencipta, penguasa, dan pengatur. Tidak ada yang mengingkari perkara ini kecuali orang yang tidak berakal atau sombong dan tidak mau menggunakan pikiran sehat. Mereka tidaklah bisa dijadikan tempat berpijak dalam menilai.
Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah subhanahu wa ta`ala. Inilah yang disebut dengan rububiyyah Allah. Tauhid rububiyyah adalah sebuah keyakinan yang diakui bahkan oleh kaum musyrikin. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31)
Oleh sebab itu, selayaknya manusia hanya menyembah kepada Allah subhanahu wa ta`ala saja. Allah subhanahu wa ta`ala telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala juga membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rezeki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-Nya.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzaariyaat:56-58)
Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitroh. Namun asal fitroh ini dirusak oleh bujuk rayu syaithan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para syaithan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-pekataan yang indah-indah untuk menipu manusia” (Al-An’aam:112)
Tauhid adalah asal yang terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan. Sedangkan kesyirikan adalah sesuatu yang mendatang dan merasuk ke dalam pikiran manusia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu. Tidak ada perubahan pada fitroh Allah.” (Ar-Ruum:30)
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap anak yang lahir, dilahirkan atas fitroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi” (HR.Al-Bukhari)
Berarti asal yang tertanam pada diri manusia secara fitroh adalah bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta`ala.
Kesyirikan adalah Sebab Perselisihan Manusia
Mulai masa Nabi Adam `alaihis-salam sampai kurun waktu yang cukup panjang setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu. maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”
(Al-BaQaroh: 213)
Kesyirikan berawal pada masa kaum Nabi Nuh `alaihis-salam. Maka Allah mengutus Nabi Nuh `alaihis-salam sebagai rasul yang pertama. Allah ta`ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (An-Nisaa`: 163)
Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh `alaihimas-salam adalah sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam. Sebagaimana penjelasan Ibnu `Abbas radhiyallahu ta`ala `anhu.
Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa ini merupakan pendapat yang benar. (Al-MuntaQao min Ighootsatil Lahafaan hal. 440)
Ubay bin Ka`ab rodiyallahu ‘anhu membaca firman Allah ta`ala dalam surat Al-BaQaroh ayat ke-213 dengan bacaan sebagai berikut,
“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu, lalu mereka berselisih, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”
Bacaan Ubay bin Ka`ab di atas dikuatkan oleh firman Allah ta`ala:
“Dahulu manusia hanyalah ummat yang satu, kemudian mereka berselisih.” (Yuunus: 19)
Maksud pernyataan Ibnul Qayyim yang terdahulu bahwa para nabi diutus karena perselisihan manusia. Mereka telah keluar dari agama yang benar sebagaimana yang mereka pegangi sebelumnya.
Dahulu bangsa Arab juga berada di atas agama Nabi Ibrahim `alaihis salam yaitu at-tauhid. hingga datang `Amr bin Luhai Al-Khuza`i lalu merubah agama Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Melalui orang ini tersebar penyembahan terhadap berhala di bumi Arab, terlebih khusus wilayah Hijaz. Maka Allah subhanahu wa ta`ala mengutus Nabi kita Muhammad shallallohu `alaihi wa sallam menjadi nabi yang terakhir.
Rasulullah shallallohu `alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama tauhid dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Sampai tegak kembali agama tauhid dan runtuh segala penyembahan terhadap berhala. Saat itulah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta.
Selanjutnya generasi yang terbaik dari umat ini berjalan di atas ajaran tauhid. Namun setelah masa mereka berlalu umat ini kembali didominasi oleh berbagai kebodohan. Mereka terkungkung dengan berbagai pemikiran baru yang mengembalikan kepada syirik. Bahkan pengaruh dari agama-agama lain cukup kuat mewarnai semangat keagamaan yang mereka miliki.
Sejarah penyebaran syirik terulang pada umat ini disebabkan para penyeru kesesatan. Sebab lain yang tak kalah penting adalah pembangunan kuburan-kuburan dalam rangka pengagungan terhadap para wali dan orang-orang shalih secara berlebihan.
Dengan demikian maka kuburan menjadi tempat pengagungan lantas menjadi berhala yang disembah selain Allah. Berbagai amalan diperuntukkan bagi kuburan baik berupa doa, penyembelihan, nadzar dan yang selainnya. (lihat Kitabut-tauhid karya DR.As- Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 6-7)
Itulah fenomena sejarah perjalanan agama umat manusia sampai zaman ini. Hari-hari belakangan kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum muslimin. Sedikit sekali di antara mereka orang yang mengerti tentang tauhid dan bersih dari syirik. As-Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu As-Syaikh pernah berkata: “Di awal umat ini jumlah orang yang bertauhid cukup banyak sedangkan di masa belakangan jumlah mereka sedikit”. (Qurratul-`Uyuun hal.24)
Kita mendapatkan perkara tauhid sebagai barang langka di kehidupan sebagian masyarakat muslimin. Tidak dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka mengaku sebagai muslimin. Maka perlu untuk membangkitkan kembali semangat bertauhid di tengah umat ini. Karena tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia.
Tauhid, Hak Allah atas Segenap Manusia
Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Ad-Dzaariyaat: 56)
Sebagian ulama menafsirkan kalimat:
“supaya menyembah-Ku”
dengan makna:
“supaya mentauhidkan-Ku”
(Lihat Al-Qaulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20)
Jika peribadahan kepada Allah tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan mana pun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan bisa menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang dilakukan dalam kategori syirik besar. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al-An`aam:88)
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)
Dua ayat ini merupakan peringatan Allah ta`ala kepada para nabi-Nya. Lalu bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu setiap amalan yang mereka lakukan adalah sia-sia bila tanpa tauhid dan bersih dari syirik.
Tauhid adalah hak Allah subhanahu wa ta`ala sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya terwujud karena penciptaan Allah subhanahu wa ta`ala.
Allah menciptakan seluruhnya dengan hikmah yang sangat besar dan keadilan. Maka layak bagi Allah subhanahu wa ta`ala untuk mendapatkan hak peribadahan dari para makhluk-Nya tanpa disekutukan dengan sesuatu apa pun.
Allah telah menciptakan manusia setelah sebelumnya mereka bukan sesuatu yang dapat disebut. Keberadaan mereka di alam ini merupakan kekuasaan Allah yang disertai dengan berbagai curahan nikmat dan karunia-Nya.
Allah telah melimpahkan sekian kenikmatan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya, melewati proses kehidupan di dalam tiga kegelapan. Pada fase ini tidak ada seorang pun yang bisa menyampaikan makanan serta menjaga kehidupannya melainkan Allah subhanahu wa ta`ala. Ibunya sebagai penghubung untuk mendapatkan rezeki dari Allah ta`ala.
Tatkala lahir ke dunia, Allah ta`ala telah mentakdirkan baginya kedua orang tua yang mengasuhnya sampai dewasa dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
Itu semua adalah rahmat dan keutamaan Allah ta`ala terhadap segenap makhluk yang dikenal dengan nama manusia. Jika seorang anak manusia lepas dari rahmat dan keutamaan Allah walaupun sekejap maka dia akan binasa. Demikian pula jika Allah ta`ala mencegah rahmat dan keutamaan-Nya dari manusia walaupun sedetik, niscaya mereka tidak akan bisa hidup di dunia ini.
Rahmat dan keutamaan Allah yang sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan hak Allah yang paling besar yaitu beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala tidak pernah meminta dari kita balasan apa pun kecuali hanya beribadah kepada-Nya semata.
Peribadahan kepada Allah bukanlah sebagai balasan setimpal atas segala limpahan rahmat dan keutamaan Allah bagi kita. Sebab perbandingannya tidak seimbang. Dalam setiap hitungan nafas yang kita hembuskan maka di sana ada sekian rahmat dan keutamaan Allah yang tak terhingga dan ternilai.
Oleh karenanya nilai ibadah yang kita lakukan kepada Allah tenggelam tanpa meninggalkan bilangan di dalam lautan rahmat dan keutamaan-Nya yang tak terkejar oleh hitungan angka. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)
Ketika manusia beribadah kepada Allah tanpa berbuat syirik maka kemaslahatannya kembali kepada dirinya sendiri. Allah akan membalas seluruh amal kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda dan seluruh amal keburukan mereka dengan yang setimpal.
Peribadahan manusia tidaklah akan menguntungkan Allah dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikan-Nya.
Manusia yang sadar tentang kemaslahatan dirinya akan beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Itulah tauhid yang harus dibersihkan dari berbagai noda syirik. Kesyirikan hanya menjanjikan kesengsaraan hidup di alam akhirat.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempat kembalinya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzolim itu seorang penolong pun.” (Al-Maaidah: 72)
Sementara mentauhidkan Allah dalam beribadah menghantarkan kepada keutamaan yang besar di dunia dan akhirat.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzoliman, bagi mereka keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)
Kedzoliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas`ud. (HR. Bukhari)
Sebagai penutup kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk beramai-ramai menyambut keberuntungan ini. Jangan kita lalai sehingga jatuh ke dalam lubang kebinasaan yang mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Allah subhanahu wa taala berfirman:
“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Az-Zumar: 15)
Wallohu a`lam bish-shawaab.
Menggapai Keutamaan Tauhid
Dalam tulisan yang lalu telah dijelaskan tentang keharusan manusia untuk beribadah kepada Allah semata tanpa berbuat syirik sedikit pun. Itulah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah. Seorang muslim adalah yang mengamalkan tauhid uluhiyyah setelah mengakui tauhid rububiyyah. Sehingga tauhid ini menjadi tema pembahasan kita.
Tauhid adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid. Sebab tauhid merupakan inti ajaran agama samawi. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasannya tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepadaku.” (Al-Anbiyaa`: 25)
Para nabi menyeru umatnya kepada tauhid karena memiliki keutamaan yang sangat besar. Nasib baik umat manusia di dunia dan akhirat bergantung kepada perealisasian tauhid. Demikian pula keselamatan hanya bisa diraih dengan bertauhid.
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertauhid berbagai keutamaan. Semua itu sebagai pelecut bagi kaum muslimin untuk menggapai keutamaan tauhid tersebut.
Rasa Aman dan Petunjuk bagi Penganut Tauhid
Setiap penganut tauhid akan mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah berupa rasa aman dan petunjuk. Hal ini membuktikan betapa penting bagi sekalian manusia untuk memiliki tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedzoliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)
Yang dimaksud dengan kedzoliman di sini adalah syirik besar. Karena Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu pernah berkata:
“Tatkala ayat ini turun, mereka bertanya: Siapa diantara kami yang tidak mendzolimi dirinya?Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: (Ayat ini) bukan seperti yang kalian fahami. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman: Sesungguhnya syirik adalah kedzoliman yang besar.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian berarti seorang yang tidak menjauhi syirik besar akan nihil perolehan rasa aman dan petunjuk secara mutlak.
Sebaliknya seorang yang bersih dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan petunjuk sesuai dengan tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada dirinya. Maka rasa aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih oleh seorang yang bertauhid dan bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa besar yang dilakukan secara terus-menerus.
Seorang yang bertauhid akan menggapai rasa aman dan petunjuk sesuai dengan nilai tauhid dan akan hilang sesuai dengan kadar maksiat. Ini apabila dia memiliki dosa-dosa dan tidak bertaubat darinya.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendzolimi dirinya sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera berbuat kebaikan dengan seizin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Faathir: 32)
Orang yang mendzolimi dirinya adalah orang yang mencampur adukkan amalan baik dengan amalan buruk. Golongan ini berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka diampuni dosanya. Bila tidak maka Allah akan menyiksanya akibat dosanya pula. Namun Allah selamatkan dari kekalan dalam api neraka sebab dia memiliki tauhid. Sedangkan golongan yang pertengahan adalah orang yang hanya mengamalkan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram. Ini adalah keadaan Al-Abror (orang-orang yang berbuat kebaikan).
Adapun golongan yang bersegera kepada kebaikan adalah orang yang memiliki kesempurnaan iman dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk taat kepada Allah, baik dalam berilmu maupun beramal.
Dua golongan yang terakhir akan memperoleh keamanan dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat. Karena sebuah kesempurnaan akan memperoleh kesempurnaan pula. Dan sebuah kekurangan akan memperoleh kekurangan pula. Oleh sebab itu kesempurnaan iman akan mencegah pemiliknya dari berbagai maksiat dan siksanya. Hingga dia berjumpa dengan Rabbnya tanpa membawa satu dosa pun yang bisa mengundang siksa. Sebagaimana Allah ta`ala berfirman:
“Mengapa Allah akan mengadzab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman?” (An-Nisaa`: 147)
Penjelasan di atas adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahumallah dan juga merupakan pendapat Ahlus-sunnah wal Jama`ah. (lihat Qurratul `Uyuun karya Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alus- Syaikh hal. 12-13, dinukil dengan sedikit perubahan)
Rasa aman dan petunjuk yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah rasa aman dan petunjuk di dunia dan akhirat. Ini pendapat yang benar menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1 hal. 58)
Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertauhid rasa aman yang langgeng di dalam mengarungi kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka), sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nuur:55)
Dalam kehidupan akhirat seseorang yang bertauhid dengan sempurna akan menikmati rasa aman dari kekalan dalam api neraka dan ancaman adzab. Sementara orang yang tidak menyempurnakan tauhid karena melakukan dosa besar tanpa bertaubat akan mengecap rasa aman dari kekalan dalam api neraka tetapi tidak merasa aman dari ancaman adzab. Nasibnya tergantung pada kehendak Allah. Apakah Allah mau mengampuninya atau justru mengadzabnya. Allah ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni dosa syirik terhadap-Nya dan akan mengampuni yang lebih ringan dari itu bagi orang yang Dia kehendaki.” (An-Nisaa`: 116)
Seorang yang bertauhid akan menggapai petunjuk kepada syari`at Allah, baik yang berupa ilmu maupun amal dalam menapaki kehidupan dunia. Ketika di akhirat mereka akan memperoleh petunjuk ke jalan menuju surga. Allah ta`ala berfirman:
“(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka dan sesembahan-sesembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (Ash-Shaaffaat: 22-23)
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka akan digiring ke jalan menuju neraka Al-Jahim di alam akhirat. Dipahami dari sini bahwa orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan diarahkan ke jalan menuju surga An-Na`im. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1 hal. 57-58)
Bertauhid kepada Allah merupakan modal pokok untuk menggapai segala keberuntungan di dunia dan akhirat. Itulah rahmat Allah yang sangat luas bagi para pemeluk tauhid. Hak timbal balik ini merupakan ketetapan Allah bukan paksaan dan kehendak seorang pun. Allah membentangkan keutamaannya bagi siapa yang mau merealisasikan tauhid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,
“Wahai Mu’adz! Tahukah engkau hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?”
Mu’adz menjawab: “Allah dan rasul- Nya yang lebih mengetahui.”
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kemudian bersabda,
“Hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba-Nya atas Allah adalah tidak menyiksa barangsiapa yang tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah tidak menyiksa seorang yang beribadah kepada-Nya tanpa berbuat syirik. Maka tidak berbuat syirik belum cukup untuk menghindarkan dari adzab Allah. Akan tetapi harus disertai dengan peribadahan kepada Allah.
Allah akan menyiksa seorang yang tidak mau beribadah kepada-Nya walaupun tidak berbuat syirik. Ini berarti ibadah kepada Allah dan tidak syirik harus dilaksanakan oleh seorang hamba secara berbarengan guna menggapai keutamaan ini. Sebab hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya dan terlepas dari berbagai noda syirik. Demikian pula status sebagai hamba Allah tidak akan melekat pada dirinya sampai dia mewujudkan peribadahan kepada Allah semata.
(lihat Al-Qaulul Mufid karya As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/ 42-43)
Tentu setiap muslim berkeinginan masuk surga disamping selamat dari adzab Allah. Masuk surga merupakan perkara yang sangat mereka idamkan. Surga adalah tempat kesudahan yang baik bagi mereka. Syarat memasukinya adalah dengan bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Tauhid sangat berpengaruh dalam menentukan nasib seorang muslim guna menggapai keutamaan ini. Pelaksanaan tauhid secara murni dan tidak berbuat syirik sama sekali dapat memudahkan jalan menuju surga tanpa penghalang. Maka tingkat keberhasilan ini diukur dengan nilai tauhid yang telah dicapai oleh masing-masing personil dalam menjalaninya.
Namun siapapun orangnya selama dia memiliki tauhid maka tempat perhentian terakhirnya adalah surga. Ini perkara pasti yang bersifat mutlak. Walaupun sebagian mereka harus terlebih dahulu melalui kenyataan pahit yaitu merasakan siksa neraka.
Yang demikian dikarenakan nilai tauhidnya tidak sempurna akibat bercampur dengan perbuatan dosa besar tanpa bertaubat kepada Allah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, ‘dan Isa adalah hambanya, rasul-Nya, kalimat yang dianugrahkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari sisinya, dan bersaksi bahwa (perihal) surga dan neraka itu adalah benar, Allah memasukkannya kedalam Surga walau bagaimana amalnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu)
Al-Hafidz ‘Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,
“Makna sabda Rasulullah (… walau bagaimana amalnya) yaitu (amalnya) yang baik maupun yang buruk. Karena ahli tauhid mesti masuk surga. Mungkin pula maknanya: penduduk surga memasukinya sesuai dengan amalan masing-masing dari mereka dalam (menempati) tingkatan-tingkatannya.”
Sedangkan menurut Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang tertera dalam hadist ‘Ubadah khusus bagi seorang yang mengucapkan hal-hal yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu menggandengkan dua kalimat syahadat dengan hakikat keimanan dan tauhid yang terlampir dalam haditsnya. Sehingga dia memperoleh pahala yang bisa memperingan timbangan dosa-dosanya, serta mengundang keampunan, rahmat dan masuk surga pada tahapan yang pertama”.
(lihat Fathul Majid karya Asy-Syaikh Abdurrahman Alus Syaikh hal. 60)
As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masuk surga terbagi menjadi dua jenis:
Pertama, masuk yang sempurna. Tidak didahului dengan siksa bagi seorang yang menyempurnakan amalan.
Kedua, masuk yang kurang sempurna. Didahului dengan siksa bagi seorang yang kurang beramal.
Maka seorang mukmin bila dosa-dosanya mengalahkan kebaikan-kebaikannya, Allah akan menyiksanya sesuai dengan kadar perbuatannya dan bisa pula tidak menyiksanya jika berkehendak. Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya dan mengampuni yang lebih ringan dari itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisa: 116)”
(lihat Al-Qaulul Mufid 1/ 72)
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mengharomkan api neraka bagi orang yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah), dengan hal itu dia mencari wajah Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Itban bin Malik radhiallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan hadits ini, ”Sabdanya, (..dengan hal itu dia mencari wajah Allah) merupakan hakikat makna yang ditunjukkan oleh kalimat La Ilaha Illallah. Yaitu berupa memurnikan peribadahan kepada Allah dan meninggalkan syirik.
Sikap jujur dalam mengucapkannya dan keikhlasan (memurnikan ibadah) adalah dua perkara yang saling terkait erat. Tidak didapati salah satu dari keduanya tanpa yang lain. Maka barangsiapa yang tidak ikhlas (memurnikan ibadah) berarti dia seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak jujur dalam mengucapkannya berarti dia seorang munafik.
Orang yang ikhlas dalam mengucapkannya adalah yang memurnikan ibadah kepada Zat Yang Berhak yaitu Allah bukan kepada yang selain-Nya. Inilah yang disebut dengan tauhid dan merupakan pondasi Islam. (lihat Qurratul Uyun halaman 18)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memaparkan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ‘Sesungguhnya seorang yang mencari wajah Allah harus menyempurnakan sarana-sarana yang mendukung pencariannya. Apabila dia menyempurnakannya maka neraka diharamkan atasnya secara mutlak.
Demikian pula jika dia melakukan kebaikan-kebaikan dengan sempurna maka neraka diharamkan atasnya secara mutlak. Namun jika dia kurang menyempurnakannya maka nilai pencariannya juga menjadi kurang. Sehingga kadar pengharoman neraka atasnya juga berkurang. Hanya saja tauhidnya mencegah dari kekekalan di dalam api neraka. Barangsiapa yang berzina, minum khomr atau mencuri, lalu dia mengucapkan persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dalam rangka mencari wajah Allah, berarti dia berdusta dalam persaksiannya. Karena nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda
“Tidaklah seseorang yang berzina sebagai mukmin ketika berzina”. (HR Bukhari-Muslim dari hadits Abu Huroiroh)
Apalagi bila persaksiannya itu ingin dianggap dalam rangka mencari wajah Allah.”
(lihat Al-Qaulul Mufid halaman 1/74).
Pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan tauhid bukan hanya sekedar sekilas info. Hendaknya berbagai keutamaan tauhid ini mampu membangkitkan semangat kita untuk lebih tekun mempelajari tauhid dan mengamalkannya. Merugilah orang-orang yang ilmunya tidak membuahkan amal.
Perumpamaannya ibarat sebuah pohon yang tidak menghasilkan buah. Bahkan lebih dari pada itu, orang yang tidak mewujudkan tauhid baik secara ilmu maupun amal niscaya akan sengsara di dunia sebelum akhirat.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengungkap keutamaan tauhid dengan tujuan untuk membangkitkan semangat umatnya bertauhid secara benar dan sungguh-sungguh. Bukan dengan maksud agar mereka berpangku tangan dan merasa puas terhadap kelemahan dan kekurangan dalam bertauhid. Keutamaan tauhid merupakan anugerah besar yang Allah curahkan bagi orang yang bisa menggapainya dengan segala daya dan upaya mewujudkan tauhid.
Selain keutamaan tauhid yang telah kita utarakan dalam pembahasan lalu masih terdapat keutaman tauhid yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jauh, marilah kita menyimak hadits-hadits berikut ini,
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bahwasanya Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada anaknya saat akan wafat ‘Aku perintahkan engkau (berpegang) dengan laa ilaaha illallah. Karena langit yang tujuh dan bumi yang tujuh jika diletakan pada satu anak timbangan dan La ilaaha illallah pada satu anak timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada yang lainnya. Dan jika langit yang tujuh beserta bumi yang tujuh membentuk lingkaran yang tak diketahui tempat sambungannya, niscaya Laa ilaaha illallah akan memutuskannya’.” (HR.Ahmad dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan sanadnya dalam As-Shahihah 1 / 210. Lihat takhrij Fathul Majid karya Asy-syaikh ‘Ali Sinan hal. 68)
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Allah ta’ala berfirman, ‘Wahai Anak Adam jika seandainya engkau mendatangiku dengan sepenuh bumi kesalahan sedangakan engkau tidak berbuat syirik sedikit pun niscaya aku akan mendatangaimu dengan sepenuh bumi keampunan”. (HR. Turmudzi dan beliau menghasankannya, Imam Muslim meriwayatkannya dari hadits Ibnu Abbas dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhuma).
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Pada hari kiamat nanti, seorang dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk. Lalu dibentangkan sembilan puluh sembilan gulungan miliknya. Setiap gulungan sejauh mata memandang.
Lalu dikatakan, ‘Adakah sesuatu yang engkau ingkari dari gulungan-gulungan ini? Apakah para pencatatku yang menjaga amalmu telah mendzolimimu?’
Dia menjawab, ‘Tidak ada wahai Rabbku’
Lalu dikatakan, ‘Apakah engkau memiliki sebuah udzur atau kebaikan?’
Maka orang ini merasa segan lantas menjawab, tidak ada.
Lalu dikatakan, ‘Benar, sesungguhnya engkau memiliki sebuah kebaikan dan engkau tidak akan didzolimi pada hari ini.’
Kemudian dikeluarkan satu kartu miliknya yang bertuliskan, Asyhadu an La ilaaha illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya).
Maka dia berkata, ‘Wahai Rabbku apa nilai kartu ini dibanding gulungan-gulungan itu?’
Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didzolimi.’
Kemudian diletakkan gulungan-gulungan itu pada satu anak timbangan dan kartu ini pada anak timbangan yang lain. Ternyata timbangan gulungan-gulungan itu ringan dan timbangan kartu ini berat”.
(HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, beliau berkata, shahih atas syarat Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Albani dalam As-Shahihah 1 / 213 berkata, ‘Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya’. Lihat takhrij Fathul Majid hal.69)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika menerangkan hadits ini, “Amal-amal perbuatan tidaklah berbeda-beda keutamaannya dikarenakan bentuk dan bilangannya. Hanya saja keutamaannya berbeda-beda sebab perbedaan keyakinan dalam hati sehingga dua amalan bisa memiliki bentuk yang satu namun nilai perbedaan di antara keduanya sejauh antara langit dan bumi.”
Selanjutnya beliau berkata, “Perhatikan hadits tentang sebuah kartu yang diletakkan pada satu anak timbangan lalu diimbangi dengan timbangan sembilan puluh sembilan gulungan yang masing-masingnya sejauh mata memandang ternyata timbangan kartu itu berat dan timbangan gulungan-gulungan itu ringan. Maka pemiliknya tidak diadzab. Merupakan perkara yang dimaklumi bahwa setiap orang yang bertauhid memiliki kartu ini. Akan tetapi kebanyakan mereka masuk mereka dengan sebab dosa-dosanya”. (Lihat Fathul Majid hal 69)
Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Hasan Alus Syaikh menjelaskan, “Dalam mengucapkan dua kalimat syahadat harus memilki ilmu dan keyakinan tentang maknanya. Selanjutnya serta mengamalkan kandungannya sebagaimana firman Allah ta’ala,
“Berilmulah engkau bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah” (Muhammad:19).
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedangkan mereka mengetahui (berilmu tentang yang dipersaksikan). (Az-Zukhruf:86)
Mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa mengerti maknanya atau tidak meyakininya maka hal itu tidak bermanfaat. Begitu pula jika tidak mengamalkan kandungannya yaitu sikap berlepas diri dari syirik dan memurnikan ucapan serta amalan untuk Allah. Maka tidak bermanfaat baik ucapan hati maupun lisan demikian pula amalan hati serta anggota badan. Hal yang dikemukakan di atas adalah kesepakatan para ulama”. (Lihat Fathul Majid hal 51).
Kita tutup pembahasan ini dengan menukilkan keterangan Asy-Syaikh Abdurrohman As-Sa’di dalam kitabnya Al-Qaulus Sadid halaman 16-19. Di sini kita akan memaparkannya dengan lengkap mengingat bahwa penjelasan beliau sangat gamblang dan rinci tentang keutamaan-keutamaan tauhid.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Termasuk dari keutamaan tauhid adalah:
Dapat menghapuskan dosa-dosa.
Merupakan sebab yang paling besar untuk melonggarkan kesusahan-kesusahan serta bisa menjadi penangkal dari berbagai akibat buruk dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Mencegah kekekalan dalam api neraka meskipun dalam hatinya hanya tertanam sebesar biji sawi keimanan. Juga mencegah masuk neraka secara mutlak bila dia menyempurnakannya dalam hati. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling mulia.
Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat kepada pemiliknya.
Merupakan sebab satu-satunya untuk menggapai ridho Allah dan pahala-Nya. Orang yang paling bahagia yang memperoleh syafaat Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya.
Penerimaan seluruh amalan dan ucapan, baik yang tampak dan yang tersembunyi tergantung kepada tauhid seseorang. Demikian pula penyempurnaannya dan pemberian ganjarannya. Perkara-perkara ini menjadi sempurna dan lengkap tatkala tauhid dan keikhlasan kepada Allah menguat. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.
Memudahkan seorang hamba untuk melakukan kebaikan- kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran. Serta menghiburnya tatkala menghadapi berbagai musibah. Seorang yang ikhlas kepada Allah dalam beriman dan bertauhid merasa ringan untuk melakukan ketaatan-ketaatan. karena dia mengharapkan pahala dan keridhoan Rabbnya. Baginya terasa ringan meninggalkan hawa nafsu yang berupa maksiat. karena dia takut terhadap kemurkaan dan siksa Rabbnya.
Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang, Allah menjadikan pemiliknya mencintai keimanan serta menghiasinya dalam hatinya. Selanjutnya Allah menjadikan pemiliknya membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Lalu Allah memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang terbimbing.
Meringankan segala kesulitan dan rasa sakit bagi seorang hamba. Semuanya itu sesuai dengan penyempurnaan tauhid dan iman yang dilakukan oleh seorang hamba. Sesuai pula dengan sikap seorang hamba saat menerima segala kesulitan dan rasa sakit dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, pasrah dan ridho terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang menyakitkan.
Melepaskan seorang hamba dari perbudakan, ketergantungan, rasa takut, pengharapan dan beramal untuk makhluq. Inilah keagungan dan kemulian yang hakiki. Bersamaan dengan itu dia hanya beribadah dan menghambakan diri kepada Allah. tidak mengharap, takut dan kembali kecuali hanya kepada allah. Dengan demikian sempurna keberuntungannya dan terbukti keberhasilannya. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.
Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang dan terealisasi lengkap dengan keikhlasan yang sempurna, amalnya yang sedikit berubah menjadi banyak. Segenap amal dan ucapannya berlipat ganda tanpa batas dan hitungan. Kalimat ikhlas (Lailaha illallah) menjadi berat dalam timbangan amal hambanya ini sehingga tak terimbangi oleh langit-langit dan bumi beserta seluruh makhluq penghuninya. Perkara ini sebagaimana tertera dalam hadits Abi Sa’id dan hadits tentang sebuah kartu yang bertuliskan La ilaha ilallah tapi mampu mengalahkan berat timbangan sembilan puluh sembilan gulungan catatan dosa dan setiap gulungan sejauh mata memandang.
Yang demikian karena keikhlasan orang yang mengucapkannya. Berapa banyak orang yang mengucapkannya tetapi tidak mencapai prestasi ini. Sebab di dalam hatinya tidak terdapat tauhid dan keikhlasan yang sempurna seperti atau mendekati yang terdapat dalam hati hamba-Nya ini. Ini termasuk keutamaan tauhid yang tak bisa tertandingi oleh sesuatu apapun.
Allah menjamin kemenangan dan pertolongan di dunia, keagungan, kemuliaan, petunjuk, kemudahan, perbaikan kondisi dan situasi, serta pelurusan ucapan dan perbuatan bagi pemilik tauhid.
Allah menghindarkan orang-orang yang bertauhid dan beriman dari keburukan-keburukan dunia dan akherat. Allah menganugerahkan atas mereka kehidupan yang baik, ketenangan kepada-Nya dan kenyamanan dengan mengingat-Nya.
Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan-keterangan ini baik dari Al-Quran maupun As-sunnah. Wallahu a’lam”
Dengan demikian, rasanya cukup besar dan banyak keutamaan yang Allah limpahkan bagi para hambanya yang bertauhid. Sangat beruntung orang yang bisa menggapai seluruh keutamaannya. Namun keberhasilan total hanya milik orang-orang yang mampu menyempurnakan tauhid dengan sepenuhnya. Tentunya manusia bertingkat-tingkat dalam mewujudkan tauhid kepada Allah ta’ala. Mereka tidak berada pada satu level. Masing-masing menggapai keutamaan tauhid sesuai dengan prestasinya dalam menerapkan tauhid. Allah berfirman:
“Itulah keutamaan Allah, Dia berikan kepada orang yang dikehendakinya. Dan Allah adalah dzat yang maha memliki keutamaan yang besar.”(Al-Jumuah:4)
Merealisasikan Tauhid
Pembahasan ini merupakan tema yang cukup menarik bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentunya orang yang beriman ingin membuktikan keimanannya. Dengan demikian dia dinobatkan sebagai seorang mu’min sejati. Tidak ada jalan untuk mewujudkan harapan yang mulia ini melainkan dengan merealisasikan tauhid kepada Pencipta Langit dan Bumi, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
Merealisasikan tauhid secara sempurna adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari campuran syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Peribadahan yang dilakukan harus terbebas pula dari kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan terus menerus. Maka seorang yang berkemauan untuk merealisasikan tauhid secara sempurna harus memenuhi kriteria sebagaimana yang diutarakan tadi.
Merealisasikan tauhid artinya menunaikan dua kalimat syahadat dengan sebaik-baiknya. Yang dimaksud yaitu mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyah, uluhiyyah, serta nama dan sifat-Nya. Termasuk pula mentauhidkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara mengikutinya. Pengertiannya adalah dia tidak mengikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah yang disebut dengan tauhid mutaba’ah.
Seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat hendaknya membersihkan tauhid dari berbagai jenis kesyirikan dan dosa besar yang tidak disertai dengan bertaubat. Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid La ilaha ilallah. Di samping itu dia harus berlepas diri dari segala kebid’ahan (urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid Muhammadur Rasulullah. Maka demikianlah makna merealisasikan tauhid secara sempurna.
Di samping terbebas dari berbagai jenis syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi, seorang yang bertauhid harus terlepas pula dari segala kebid’ahan dan dosa besar yang diperbuat dengan terus menerus tanpa bertaubat. Karena melaksanakan sebuah kebid’ahan berarti mempersekutukan Allah dengan hawa nafsu. Demikian pula makna yang terkandung dalam memperbuat sebuah dosa besar. (Penjelasan ini diterangkan oleh Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh di kaset pelajaran Kitabut-Tauhid).
Tingkatan Merealisasikan Tauhid
Merealisasikan tauhid dapat dibagi menjadi dua tingkatan:
1. Tingkat yang Wajib
Yaitu seseorang merealisasikan tauhid dengan membersihkan dan memurnikannya dari berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan terus-menerus. Ini merupakan tingkat yang wajib bagi orang yang ingin merealisasikan tauhid dengan sempurna.
2. Tingkat yang Mustahab
Tingkat ini digapai setelah menunaikan tingkat yang pertama. Oleh sebab itu tingkat ini lebih tinggi derajatnya dari tingkat yang pertama. Seorang yang ingin menduduki tingkat ini harus melepaskan seluruh wujud penghambaan diri, keinginan, dan tujuan yang menghadap kepada selain Allah. Sehingga dirinya tidak menghadap, berkeinginan dan bertujuan untuk selain Allah sedikit pun dan sekecil apapun. Maka hawa nafsu menjadi budaknya, sedangkan dirinya menjadi hamba Allah secara total dan utuh.
Dengan demikian, seorang yang menempati tingkat ini tidak hanya meninggalkan berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Namun dia juga meninggalkan perkara-perkara yang makruh, bahkan sebagian perkara mubah yang dikhawatirkan menggiring kepada perkara harom. Inilah yang diungkapkan oleh sebagian ulama dengan pernyataan
“Mereka meninggalkan perkara yang tidak mengandung dosa karena khawatir terdapat dosa di dalamnya”.
Tingkatan kedua ini adalah wujud maksimal untuk merealisasikan tauhid secara sempurna dalam meraih derajat yang setingi-tingginya ketika masuk surga. Sedangkan tingkat yang pertama adalah standar untuk masuk surga tanpa adzab dan perhitungan amal.
Tentunya kedua tingkatan di atas memiliki perbedaan pula dalam mengibadahi Allah subhanahu wat’ala. Jika tingkat pertama hanya mengibadahi Allah dengan perkara-perkara yang wajib saja.
Beda halnya dengan tingkat kedua. Pada tingkat ini peribadahan kepada Allah tidak hanya sebatas dalam perkara-perkara yang wajib saja tetapi juga dalam perkara-perkara yang mustahab. Tingkat pertama disebut dengan Al-Muqtasid sedangkan tingkatan kedua disebut dengan As-Saabiq bil Khairot. Wallahu a’lam.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Profil Muwahhid Sejati
Allah berfirman dalam Al-Quranul Karim,
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (QS. An-Nahl: 120)
Di sini Allah memberitakan tentang profil Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang merealisasikan tauhidnya secara sempurna. Beliau adalah seorang pemimpin dan teladan dalam kebaikan-kebaikan terutama perkara tauhid. Beliau adalah seorang yang tunduk dan patuh kepada Allah dengan terus-menerus dalam seluruh situasi, kondisi dan tempat.
Sifat lain yang beliau miliki yaitu menghadapkan diri kepada Allah dengan sepenuhnya tanpa berpaling sedikit pun kepada yang selain-Nya. Seluruh sifat beliau ini merupakan hakikat penerapan tauhid yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Pada ayat di atas diterangkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan orang-orang yang berbuat syirik (musyrikin). Kandungan ayat ini mencakup dua makna:
1. Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan musyrikin secara fisik. Artinya beliau ‘alaihis salam berlepas diri, tidak bergabung dan berkumpul bersama-sama kaum musyrikin dengan jasadnya.
2. Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan musyrikin secara sifat dan perilaku. Artinya beliau ‘alaihis salam berlepas diri dan tidak melakukan kesyirikan sama sekali. Demikian pula beliau ‘alaihis salam tidak mengikuti adat kebiasaan kaum musyrikin yang bergelimang dengan kebid’ahan dan kemaksiatan di samping kesyirikan.
(Seluruh keterangan yang lalu disampaikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alus Syaikh di kaset Kitabut Tauhid).
Pada ayat di atas dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai satu umat padahal beliau sendirian. Maksudnya agar orang-orang yang menempuh jalan tauhid tidak merasa ngeri karena jumlah penganutnya sedikit.
Selanjutnya beliau ‘alaihis salam dikukuhkan oleh Allah sebagai seorang yang tunduk dan patuh kepada-Nya. Berarti beliau ‘alaihis salam bukan seorang yang tunduk kepada penguasa atau orang kaya yang punya harta dan yang selain mereka. Maka tidak ada yang selain mereka.
Maka tidak ada yang bisa menguasai beliau ‘alaihis salam selain Allah, baik dari golongan para penguasa maupun para orang kaya yang punya harta dan yang selain mereka. Beliau ‘alaihis salam tidak bisa dibelai dengan kekuasaan, harta atau yang selainnya. Karena pendirian beliau ini Allah menyebutnya sebagai seorang yang patuh dan tunduk kepada-Nya.
Berikutnya beliau ‘alaihis salam disifatkan sebagai seorang yang hanif. Maksudnya beliau ‘alaihis salam seorang yang hanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari yang selain-Nya tanpa menyimpang ke kanan dan ke kiri. Demikianlah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menjelaskan tentang sifat-sifat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagaimana pada ayat di atas.
Kriteria Orang-orang Yang Bertauhid
Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim,
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. “(Al-Mu’minun:57-61)
Ayat-ayat di atas menyebutkan kriteria orang-orang yang beriman dan bertauhid dengan baik.
Tentang firman Allah,
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berbuat baik dan beramal shalih karena takut terhadap Rabb mereka dan khawatir ditimpa oleh sesuatu yang mereka tidak inginkan. Inilah kondisi seorang mukmin, berbuat kebaikan karena takut kepada Allah dan khawatir tidak memperoleh apa yang mereka inginkan”.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menyatakan, “Seorang mu’min mengumpulkan antara perbuatan baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan seorang munafik mengumpulkan antara perbuatan jelek dan rasa aman dari siksa Allah.”
Tentang firman Allah,
“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka”
Perlu diketahui bahwa beriman dengan ayat-ayat Allah mencakup dua hal:
1. Beriman dengan ayat Allah Al-Kauniyyah.
Maksudnya beriman bahwa segala yang terjadi di alam ini dengan taqdir dan ketentuan Allah.
2. Beriman dengan ayat Allah Asy-Syar’iyyah.
Maksudnya beriman kepada syariat yang Allah turunkan melalui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Ayat Allah Asy-Syar’iyyah mengandung tiga hal:
a. Perintah Allah yang disyariatkan. Ini adalah perkara yang dicintai Allah.
b. Larangan Allah yang disyari’atkan. Ini adalah perkara yang dibenci Allah.
c. Kabar yang diberitakan oleh Allah dalam syari’at-Nya. Kabar ini adalah benar dan tidak mungkin dusta sebab datangnya dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Tentang firman Allah,
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”
Perlu diketahui bahwa tidak berbuat syirik yang dimaksud dalam ayat ini adalah makna yang menyeluruh dan mencakup semua jenisnya. Artinya tidak berbuat syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Ini adalah sifat seorang yang merealisasikan tauhid secara sempurna.
Jika dinyatakan “tidak berbuat syirik” sedikit pun, berarti terlepas pula dari perbuatan bid’ah dan maksiat. Sebab berbuat bid’ah dan maksiat merupakan realisasi menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut dengan syirik. Coba perhatikan firman Allah ta’ala,
“Apakah engkau tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan)-nya”. (Al-Jatsiyah:23)
Wallahu a’lam bishshawaab.
Sumber : http://alhujjah.wordpress.com/tauhid/#comment-661




